Cianjur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur, Jawa Barat, berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) untuk penanganan banjir di dataran tinggi Cianjur melalui evaluasi tata ruang dan pengelolaan kawasan hulu.

Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian di Cianjur, Minggu, mengatakan langkah tersebut diharapkan dapat memperbaiki tata kelola lingkungan serta menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah dataran tinggi di Cianjur, terutama wilayah utara.

Banjir yang melanda dataran tinggi menjadi perhatian serius pemerintah daerah, kata dia, karena sebelumnya wilayah tersebut dikenal relatif aman dari banjir, namun alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko banjir di wilayah hulu.

“Ini sangat mengkhawatirkan, karena wilayah dataran tinggi terjadi banjir, karena hasil kajian menunjukkan perubahan fungsi lahan dari tanaman keras menjadi perkebunan sayuran berdampak terhadap menurunnya daya serap tanah," katanya.

Lahan yang sebelumnya ditanami kopi dan teh banyak dialihfungsikan menjadi lahan pertanian sayuran. Dengan kondisi tersebut, kata dia, dapat memicu meningkatnya lintasan air saat hujan deras sehingga memperbesar potensi banjir mengenangi perkampungan di bawahnya.

Ia mengatakan alih fungsi lahan dari tanaman keras menjadi perkebunan sayuran menjadi salah satu faktor paling menonjol dalam kajian lintas dinas, sehingga terjadi erosi yang membuat air langsung mengenangi perkampungan warga di kaki gunung.

Bupati Wahyu menegaskan pembangunan dan aktivitas ekonomi tetap harus memperhatikan aspek kelestarian lingkungan agar risiko bencana dapat ditekan dan saat membuka lahan pertanian diikuti dengan penanaman pohon keras agar dapat menyerap air.

“Harapan kami langkah bersama dengan pemerintah provinsi dapat memperbaiki tata ruang dan pengelolaan kawasan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat Cianjur,” katanya.

Seperti diberitakan Pemprov Jabar memberikan upah Rp2 juta per bulan pada petani di bawah kaki Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Cianjur, yang semula berladang beralih menanam pohon untuk program pelestarian alam guna mencegah terjadinya bencana.

Pada pelaksanaannya setiap petani akan menggarap satu hingga dua hektar elahan, dimana hal tersebut sudah diterapkan di sejumlah wilayah lainnya di Jabar, sebagai upaya mengembalikan fungsi alam dan menjaga amanah dari leluhur Tatar Sunda.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan bencana alam di sejumlah wilayah di Cianjur termasuk jarang terjadi, terutama di dataran tinggi, seperti di kawasan Puncak-Cianjur.

 



Pewarta: Ahmad Fikri
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026