Cimahi (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Jawa Barat mengingatkan bahaya membakar sampah sembarangan, termasuk menggunakan insinerator tanpa memenuhi persyaratan ketat, karena berisiko bagi kesehatan dan lingkungan.
Kepala DLH Kota Cimahi Chanifah Listyarini dalam keterangannya di Cimahi, Rabu, menyebut pembakaran sampah melalui insinerator berpotensi menghasilkan emisi berbahaya berupa senyawa dan dioksin yang tidak kasat mata namun berdampak fatal bagi kesehatan manusia.
"Hal berbahaya dalam pembakaran sendiri manakala kita membuat adalah untuk gas adanya furan dan dioksin, yang kemarin dikatakan oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, tidak kelihatan di udara," jelasnya.
Dia menjelaskan bahwa pembakaran sampah pada dasarnya tidak menghilangkan sampah, melainkan hanya mengubah bentuknya dari padat menjadi gas yang kemudian terlepas ke udara.
Ia juga menambahkan penggunaan insinerator sendiri bukan sepenuhnya dilarang oleh kementerian, melainkan terdapat syarat khusus yang harus dipenuhi jika ingin menggunakan.
"Nah, sekarang apakah kementerian itu melarang sepenuhnya, Bukan. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi kalau daerah atau mungkin institusi akan menggunakan insinerator sebagai pengolah sampah," tambahnya.
Dia menyebut, untuk insinerator dengan kapasitas di bawah 50 ton per hari, pengelola wajib memiliki dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL), serta melakukan pengujian ketat terhadap emisi udara dan limbah yang dihasilkan.
Selain itu, pihaknya juga memaparkan akan mendorong optimalisasi pemilihan sampah agar dapat selesai dengan target 60 persen di wilayah kelurahan masing-masing.
"Yang akan diterapkan ke depan di Kota Cimahi itu optimalisasi pemilahan sampah di wilayah dengan target 60 persen sampah selesai di wilayah di bawah tanggung jawab kelurahan," tambahnya.
Upaya tersebut menjadi penting mengingat Kota Cimahi menjadi salah satu daerah di Bandung Raya yang terdampak kebijakan pembatasan pembuangan sampah ke TPA Sarimukti.
