Teheran (ANTARA) - Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan bahwa senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam doktrin militer negaranya dan Iran sepenuhnya mampu mempertahankan diri tanpa senjata tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Eslami, Sabtu (31/1) dalam sebuah wawancara dengan media lokal. Ia menekankan bahwa Iran tidak membutuhkan senjata nuklir dan telah memiliki kemampuan pencegahan dan daya tangkal yang memadai tanpa bom nuklir.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, awal pekan ini, memperingatkan Iran agar meninggalkan ambisi nuklirnya untuk menghindari konfrontasi militer, seraya mengumumkan bahwa armada laut besar AS sedang bergerak menuju Iran.
Iran kerap menuduh badan pengawas nuklir PBB mempolitisasi program nuklirnya. Bahkan, Teheran menuding Kepala Badan Energi Atom Internasional, Rafael Grossi, turut memfasilitasi serangan Israel terhadap fasilitas Iran pada Juni tahun lalu.
Eslami menyoroti sifat “politis” dari berkas nuklir Iran serta tekanan eksternal terhadap pimpinan IAEA. Menurutnya, Teheran tidak hanya sulit berharap agar kasus tersebut ditutup, tetapi juga memperkirakan tekanan akan semakin meningkat.
Ia menjelaskan bahwa perundingan telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan berbagai pemerintahan Iran terlibat secara politik, hingga menghasilkan kesepakatan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Namun, ia menambahkan, AS dan tiga negara Eropa, yakni Inggris, Jerman, dan Prancis, gagal memenuhi komitmen mereka dalam perjanjian tersebut dan pada akhirnya mengakhiri kesepakatan melalui mekanisme snapback pada akhir tahun lalu.
