Kota Bandung (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai upaya mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sekaligus meningkatkan nilai guna sampah.
Ketua Tim Pengurangan Sampah DLH Kota Bandung, Syahriani mengatakan RDF menjadi salah satu inovasi pengolahan sampah anorganik bernilai rendah agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar alternatif.
“Metode RDF ini menjadi salah satu cara kami mengubah sampah bernilai rendah menjadi energi yang bermanfaat. Industri bisa memakai RDF sebagai substitusi batubara, sehingga sampah tidak lagi hanya dibuang, tapi dimanfaatkan kembali,” kata Syahriani di Bandung, Senin.
Syahriani menyebut saat ini sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) telah beroperasi dengan memanfaatkan teknologi tersebut seperti TPST Tegallega yang dapat mengolah sekitar 25 ton sampah per hari menjadi RDF.
Sementara, kata dia, untuk TPST Gedebage tengah ditingkatkan kapasitasnya untuk pengolahan sampah organik melalui metode maggotisasi dan sampah anorganik menjadi RDF dengan target 60 ton per hari.
“Dengan berbagai fasilitas ini, hasilnya mulai terasa. Volume sampah yang masuk ke TPA berangsur menurun, dan pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar alternatif mulai berjalan,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala seperti suplai sampah yang terlalu basah atau tercampur, serta kapasitas operasional TPST yang belum sepenuhnya optimal.
