Bandung (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat masih menilai positif atas nilai ekspor dan impor Jabar yang turun secara bulanan per September 2025 dengan masing-masing nilainya 3,27 miliar dolar AS (turun 5,71 persen) dan 0,92 miliar dolar AS (turun 11,54 persen).
Plt Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Darwis Sitorus mengatakan hal ini dikarenakan, walaupun nilai ekspor Jawa Barat turun pada September 2025, yang mengalami penurunan terbesar adalah impor khususnya barang konsumsi.
"Bukan pelambatan. Walau ada juga penurunan impor bahan baku, yang kita lihat justru penurunan terbesar itu dari impor konsumsi, kan ini bagus kan," kata Darwis di Gedung BPS Jawa Barat, Bandung, Senin.
Statistisi Ahli Madya Ninik Anisah, yang merupakan Ketua Tim Statistik Distribusi mengungkapkan pada periode Januari sampai September 2025 impor barang konsumsi memiliki penurunan sebesar 27,22 persen.
"Jadi barang-barang yang tidak melalui proses produksi lagi itu dominan penurunannya. Ini juga dipicu oleh kebijakan pemerintah (pengetatan keran impor)," ucapnya.
BPS Jawa Barat sendiri mencatat nilai ekspor Jawa Barat pada September 2025 senilai 3,27 miliar dolar AS atau turun 5,71 persen dibandingkan Agustus 2025 yang senilai 3,47 miliar dolar AS.
Sedangkan secara tahunan (year on year/yoy) masih mengalami kenaikan sebesar 0,79 persen jika dibandingkan September 2024. Juga secara kumulatif nilai ekspor Januari-September 2025 naik 2,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Menurut golongan barang ekspor dari Jawa Barat sepanjang 2025 didominasi golongan kendaraan dan bagiannya senilai 6,25 miliar dolar AS, mesin dan perlengkapan elektrik senilai 4,67 miliar dolar AS dan golongan mesin dan peralatan mekanis senilai 2,37 miliar dolar AS.
Negara tujuan utama ekspor Jawa Barat, yaitu Amerika Serikat senilai 4,79 miliar dolar AS, Filipina senilai 2,62 miliar dolar AS, dan Jepang senilai 2,14 miliar dolar AS.
"Kontribusi ekspor menurut sektor sepanjang 2025 masih didominasi sektor industri sebesar 98,73 persen, diikut sektor migas sebesar 0,69 persen, sektor pertanian 0,57 persen dan sektor tambang sebesar 0,01 persen," ujar Darwis.
Senada dengan ekspor, impor juga terjadi penurunan pada September 2025 senilai 0,92 miliar dolar AS, turun 11,54 persen jika dibandingkan Agustus 2025 yang senilai 1,04 miliar dolar AS.
Penurunan pada impor tak hanya secara bulanan namun juga secara tahunan (year on year/yoy) turun 7,61 persen dan secara kumulatif turun 6,13 persen.
Untuk negara asal impor terbesar sepanjang 2025 masih didominasi oleh Tiongkok senilai 2,99 miliar dolar AS, Jepang senilai 1,11 miliar dolar AS dan Korea Selatan senilai 1,04 miliar dolar AS.
Sedangkan menurut golongan barang, yang terbesar nilainya adalah mesin dan perlengkapan elektrik senilai 1,23 miliar dolar AS, mesin dan peralatan mekanis senilai 0,77 miliar dolar AS, serta plastik dan barang dari plastik senilai 0,02 miliar dolar AS.
"Walaupun demikian secara neraca perdagangan, Jawa Barat masih mengalami surplus senilai 19,87 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga September 2025. Kita masih surplus dengan Amerika Serikat, Filipina, Thailand dan Vietnam. Sedangkan dengan Taiwan dan Tiongkok kita masih alami defisit," tutur Darwis.
