Bandung (ANTARA) - Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, Darwis Sitorus, mengungkapkan nilai kinerja ekspor dan impor Jawa Barat per November 2025 mengalami penurunan.
Darwis, di Bandung, Senin, menjelaskan ekspor Jawa Barat sepanjang November 2025 senilai 3,20 miliar dolar AS, atau turun 4,62 persen dibandingkan Oktober 2025, dan secara tahunan (year on year/yoy) juga ekspor Jawa Barat mengalami penurunan sebesar 0,25 persen.
"Adapun secara kumulatif, ekspor Januari-November 2025 naik sebesar 2,08 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Jadi masih cukup oke," kata Darwis.
Berdasarkan sektornya, ekspor Jawa Barat pada November 2025 masih didominasi oleh sektor industri sebesar 98,70 persen, diikuti sektor migas 0,70 persen, sektor pertanian 0,60 persen dan sektor tambang 0,01 persen.
Sepanjang Januari-November 2025 menurut golongan barang yang memiliki nilai ekspor terbesar adalah kendaraan dan bagiannya senilai 7,76 miliar dolar AS, mesin dan perlengkapan elektrik senilai 5,70 miliar dolar AS, mesin dan peralatan mekanis senilai 2,94 miliar dolar AS.
Sedangkan, berdasarkan negara tujuan ekspor, yang terbesar adalah Amerika Serikat senilai 5,79 miliar dolar AS, Filipina senilai 3,22 miliar dolar AS, dan Jepang senilai 2,59 miliar dolar AS.
Tak beda dengan ekspor, impor juga mengalami penurunan. Nilai impor Jawa Barat pada November 2025, senilai 0,85 miliar dolar AS, atau turun sebesar 10,89 persen secara bulanan (month to month/mtm), juga turun sebesar 22,10 persen secara tahunan (year on year/yoy), dan turun sebesar 8,99 persen secara kumulatif.
Struktur penggunaan impor sepanjang 2025, yaitu bahan baku atau bahan penolong sebesar 81,17 persen, barang modal sebesar 10,59 persen, dan konsumsi sebesar 8,24 persen.
Menurut golongan barang sepanjang Januari-November 2025 impor Jawa Barat didominasi kelompok mesin dan perlengkapan elektrik senilai 1,47 miliar dolar AS, mesin dan peralatan mekanis senilai 0,90 miliar dolar AS, plastik dan barang dari plastik senilai 0,84 miliar dolar AS.
Pewarta: Ricky PrayogaEditor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.