Pernyataan ini menegaskan sinyal dari Ketua Fed Jerome Powell yang sebelumnya menyebutkan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini.
Suku bunga yang lebih rendah secara historis mendukung penguatan aset berisiko tinggi seperti kripto.
"Penurunan suku bunga akan menurunkan biaya pinjaman dan mendorong investor untuk mengalihkan dananya ke aset seperti Bitcoin dan Ethereum," jelas Fyqieh.
"Apalagi dengan dukungan arus masuk yang kuat ke ETF Bitcoin spot, peluang BTC untuk menguji ATH di 111.970 dolar AS (Rp1,81 miliar) semakin terbuka lebar," tambahnya.
Data terakhir menunjukkan ETF Bitcoin AS telah menarik lebih dari 9 miliar dolar AS, dengan iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock memimpin lonjakan arus masuk tersebut.
Pada 22 Mei lalu, arus masuk ETF Bitcoin bahkan mencapai 432 juta dolar AS dalam satu hari. Namun demikian, Fyqieh mengingatkan investor perlu mencermati risiko koreksi apabila keputusan The Fed mengecewakan pasar.
"Jika Fed memilih menahan suku bunga dan inflasi tetap tinggi, kita bisa melihat koreksi sementara. Tapi secara fundamental, pasar masih sangat optimistis terhadap prospek Bitcoin dalam jangka menengah," pungkasnya.
Dengan kombinasi teknikal yang kuat dan potensi stimulus kebijakan moneter, pasar kini menunggu apakah BTC akan mampu menembus rekor 111.970 dolar AS dan menandai fase bullish baru di paruh kedua tahun 2025.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bitcoin menguat, dekati rekor harga tertinggi sepanjang masa
