Dari aspek kesetaraan gender dan perlindungan perempuan, CDF dikatakan mampu menekan kasus kekerasan yang terjadi. Seperti diceritakan Koordinator Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (SAPPANA) Desa Banjarsari, Kanny Destana.
Hadirnya SAPPANA, kata dia, membuat warga desa merasa terlindungi karena mengetahui harus ke mana dan menghubungi siapa ketika mengalami KBG-KS, tanpa perlu khawatir ada pelabelan macam-macam dari masyarakat.
"Sejak tiga tahun lalu berdiri, SAPPANA Desa Banjarsari menangani enam laporan yang masuk kebanyakan kekerasan keluarga, dan langsung kami dampingi untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan koordinasi dengan dinas perlindungan perempuan dan telah diselesaikan. Masyarakat makin merasa terlindungi dengan adanya SAPPANA dan isu krusial pun cenderung menurun," ucap dia.
Hingga kini, CDF turut memperkuat mekanisme perlindungan perempuan dan anak di desa, melalui peningkatan Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (SAPPANA) di tiga desa dengan total anggota 72 orang (36 perempuan 36 laki laki), yang menjadi forum dialog, serta jalur pencegahan, pengaduan dan penanganan KBG-KS yang lebih mudah diakses.
Dr Abdul Wahib Situmorang membenarkan program CDF itu dasarnya adalah memberikan landasan dan kesiapan untuk pemberdayaan masyarakat perkebunan termasuk pekerja perempuan.
Selama berjalan, Abdul menambahkan, CDF yang memberikan kesempatan peningkatan kapasitas dengan fasilitasi kejar paket A,B,C bagi anggotanya dan masyarakat dengan rincian di Malabar 20 orang anggota CDF dan warga, di Pasir Malang sembilan anggota CDF, dan di Kanaan 15 orang anggota CDF.
Kemudian lewat kolaborasi multi pihaknya, program CDF ini menghadirkan fasilitas WASH (water, sanitation, and hygiene) lewat rehabilitasi fasilitas pekerja di Dusun Kanaan dan Dusun Palawija. Serta pembuatan ruang laktasi, ruang istirahat pekerja di perkebunan Malabar.
Menghadirkan pula kemudahan akses sanitasi bagi pemetik teh yang terdiri dari 1 MCK toilet portabel di Perkebunan Malabar, 1 toilet portabel di perkebunan Pasir Malang, dan 1 toilet permanen di perkebunan Negara Kanaan.
Kolaborasi melalui CDF menurut Abdul juga menghadirkan akses kebutuhan air di RW 05 Desa Margaluyu (Kebun Pasir Malang) untuk untuk memenuhi kebutuhan air warga yang kerap kesulitan, terlebih di musim kemarau dengan reservoar berkapasitas 10.000 liter yang menghasilkan 360 liter/hari untuk kurang lebih 200 KK yang dialirkan dari saluran sepanjang 800 meter.
Abdul menegaskan, tujuan utama CDF membangun sistem yang membangun reputasi dari produk perkebunan khususnya teh nasional, termasuk pada pemberdayaan kesejahteraan dan keamanan pekerja perempuan, serta kualitas produk yang memenuhi tuntutan pasar.
"Sebanyak 60-80 persen orang di Amerika dan Eropa itu minum teh. Kita harus mengubah paradigma. Karena pasar itu menginginkan membeli produk teh yang etis, yakni yang ramah lingkungan, yang melindungi pekerja, termasuk pekerja perempuannya dan membangun wilayah dan masyarakat sekitarnya," tutur Abdul Wahib Situmorang, menutup.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menjaga "Tangan" Perempuan yang Jadi Kunci Keberlanjutan Teh Nasional
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026