Melalui CDF, lanjut dia, perusahaan semakin memahami kebutuhan para pekerja untuk mendukung produktivitas, sekaligus menciptakan ruang kerja yang aman dan nyaman. Salah satunya, penyediaan toilet portabel di area perkebunan, sehingga pekerja perempuan dapat merasa lebih aman dan nyaman saat bekerja.
"CDF menjadi ruang yang mempertemukan berbagai pihak untuk bersama-sama membicarakan kebutuhan dan tantangan di komunitas. Kami melihat adanya perubahan sikap dari para pemetik yang menjadi lebih lugas dalam menyampaikan aspirasi kepada atasannya. Demikian juga dengan masyarakat yang tinggal di perkebunan, ini menumbuhkan budaya dialog yang lebih terbuka dan partisipatif," katanya.
Kepercayaan diri dan komunikasi aspirasi yang lebih baik dengan manajemen perkebunan itu juga seperti yang dirasakan nyai lewat program CDF ini, selain juga ada peluang untuk sumber pendapatan baru menambah hasil dari aktivitas di perkebunan.
Seiring waktu, CDF di tiga desa juga mendorong lahirnya berbagai inisiatif komunitas yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, melalui pengembangan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dengan melihat potensi sumber daya yang ada dan kebutuhan masyarakat setempat.
"Paling utama kepercayaan diri terbangun, tambah ilmu, teman, ada keluarga baru. Alhamdulillah sekarang dengan ada KUBE Lemon yang saya ikuti, ini juga jadi tambahan penghasilan sehingga saya bisa menabung," kata nyai.
Di Perkebunan Pasir Malang, dengan koordinasi di CDF, informasi yang diterima ANTARA, telah didirikan KUBE yang memproduksi olahan berupa lemon kering, kopi, jamur, serta pengolahan sayur dan buah yang dikelola 23 orang (21 perempuan, 7 laki laki).
Hal serupa juga dirasakan oleh Ketua KUBE Warung Enteh CDF Malabar Hani Maharani yang menyebut dengan adanya program itu, antarpekerja perkebunan dari yang banyak tidak saling mengenal, kini memiliki ruang untuk berbagi cerita keluh kesah yang mereka alami.
Selain itu, masa depan para pekerja juga menjadi lebih cerah, menurutnya, dengan adanya sumber pendapatan baru lewat Warung Enteh, yakni usaha kafe, tempat makan dan istirahat di lokasi strategis jalur wisata yang menawarkan berbagai makanan dan minuman khas teh lemon, yang dikelola 15 orang (14 perempuan, 1 laki-laki).
Menurut Hani, tingkat kunjungan yang meningkat seiring waktu, yang terlihat dari rata-rata 20 resi pesanan per hari dengan satu resi biasanya satu rombongan keluarga, omzet yang dihasilkan rata-rata per hari adalah Rp2 juta.
"Dan mudah-mudahan lebih maju lagi ke depan dengan menu baru dari cuanki dan teh lemon Malabar, yang semenjak hadir menu itu, terlihat peningkatan penjualan sampai 70 persen," kata Hani.
Bagi Mustari Siti Harom, koordinator KUBE Lemon Desa Margaluyu yang tiap bulan sedikitnya memproduksi 50 pax lemon kering seberat 50 gram dan 100 gram, merasa yakin program CDF yang berjalan tetap akan bisa berlanjut dengan komunikasi yang terbangun antar anggota selama ini, serta kerja bersama dengan komunitas CDF di dua desa lainnya.
"Saya yakin dengan pelatihan dan dampingan yang kami dapatkan, serta rasa memiliki dari para anggota dan kapasitas komunikasi yang dibangun selama program berjalan akan memastikan dampak dari program ini terus berjalan, ditambah kolaborasi dengan KUBE lainnya saya yakin bisa," ucap Siti.
Berjalannya koordinasi CDF di Perkebunan Nagara Kanaan dikatakan kepada Antara, telah mendirikan pula KUBE toko sebagai tempat penjualan gas elpiji dan pupuk yang dikelola 10 orang (9 perempuan, 1 laki-laki).
Selama berjalan, ketiga KUBE ini memiliki omzet tahunan yang cukup menggembirakan di mana Warung Enteh mencatatkan Rp100 juta, Toko gas elpiji dan pupuk beromzet Rp17.000.000 juta, dan KUBE Lemon Kering memiliki omzet Rp7,5 juta.
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026