Ketua Dewan Teh Indonesia Iriana Ekasari mengungkapkan industri teh Indonesia, kini tidak lagi bisa sekadar mengandalkan adu kualitas rasa di panggung lelang internasional, karena pasar global, mulai menggeser parameter premium mereka pada aspek pemenuhan hak-hak pekerja perempuan dan keberlanjutan lingkungan.
Komoditas legendaris di Jawa Barat yang sempat merajai pasar Eropa, Mesir, hingga Rusia sejak awal era 1900-an ini, kini didorong untuk mengadopsi narasi baru berbasis pemenuhan Sustainable Development Goals (SDGs).
"Dunia sudah berubah. Isu kesetaraan gender dan pemberdayaan remaja menjadi penentu utama konsumen global dalam memilih produk teh saat ini. Hak-hak pekerja tidak lagi dipandang sebagai cost atau biaya operasional oleh perusahaan, melainkan sebagai revenue atau sumber pendapatan baru melalui label produk khusus perempuan," ujar Iriana, di sela diskusi publik bertajuk "Kolaborasi Multipihak dalam rangka mewujudkan perkebunan teh yang Inklusif, produktif, dan berkelanjutan" di Kantor PTPN 1 Regional 2 Bandung.
Kondisi sosial perkebunan
Walaupun zaman telah banyak berubah sejak era kolonial hingga berdirinya negara Indonesia, kini, kondisi kehidupan di kawasan perkebunan masih memiliki tantangan sampai saat ini.
Yang menjadi tantangan pertama adalah lokasi pemetikan daun teh yang terkadang sangat jauh dari kantor operasional perkebunan atau pabrik pengolahan teh, sehingga memaksa para pekerja beradaptasi secara was-was untuk memenuhi keperluan mereka, seperti sanitasi dan area privasi misal untuk menyusui bagi para pekerja perempuan yang harus turut membawa bayinya.
Pemetik teh di Kebun Pasir Malang, Nyai Sinarsih mengaku memulai hari dengan bangun sekitar pukul 03.00 untuk Shalat Subuh, menyiapkan makanan dan segala sesuatunya bagi keluarga, sebelum tiba di tempat penjemputan sekitar pukul 05.00 untuk ke lokasi pemetikan.
Ia bekerja memetik teh dari pukul 07.00-14.00 dengan satu kali istirahat makan. Setelah hasil panennya yang tiap hari ditarget minimal harus mencapai 95 kilogram ditimbang, dia pulang dan mempersiapkan lagi kebutuhan rumah untuk keluarganya.
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026