Bandung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kian agresif memproteksi kuliner tradisional dari kepunahan dan klaim sepihak negara lain, salah satunya dengan menyuntikkan riset sains dan teknologi seperti dari ITB ke budaya.

Kepala Disparbud Jabar Iendra Sofyan, di Bandung, Rabu, menyebut langkah strategis itu seperti pengembangan teknologi fermentasi kuliner, adalah untuk memperkuat pencapaian Jawa Barat yang berhasil menembus angka 200 Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) bersertifikat resmi pada tahun 2025.

Iendra menegaskan pembuktian otentisitas kuliner tradisional kini diperkuat lewat dokumentasi ilmiah dan teknologi fermentasi yang dikembangkan ITB, sehingga setiap resep leluhur memiliki cetak biru (blueprint) yang jelas dan diakui secara hukum melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

"Tahun lalu kita berhasil meloloskan 200 WBTB ke tingkat nasional, termasuk produk kuliner. Kami bersama DPRD Jabar sepakat menetapkan target tinggi agar warisan tradisi ini segera diproteksi melalui proposal yang jelas, sehingga tidak diklaim oleh negara atau masyarakat lain," kata Iendra.

Menurut Iendra, teknologi fermentasi sejatinya sudah diterapkan oleh leluhur Jawa Barat secara alamiah menggunakan media pembungkus daun.

Namun, kehadiran riset ITB modern dengan pemanfaatan bakteri terukur, mampu membuat proses tersebut lebih konsisten dan siap menuju standarisasi industri tanpa menghilangkan nilai tradisinya.

Sementara itu, Wakil Rektor ITB Andryanto Rikrik Kusmara menyampaikan bahwa komitmen pihaknya dalam mendukung teknologi dalam pangan nantinya bisa terlihat dalam Festival Akulturasa pada 19 Juni 2026 yang sengaja memadukan unsur inovasi sains dengan nilai-nilai budaya lokal.

"Festival ini menampilkan tradisi lama, pengolahan makanan tradisional, bahan pangan lokal, serta kearifan tradisional yang dikawinkan dengan inovasi yang lahir dari sains dan teknologi. Kami menyajikan makanan unik yang sudah melalui proses kurasi ketat, bukan makanan umum," tutur Andryanto.

Riset pangan tersebut melibatkan kolaborasi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Fakultas Teknologi Industri (FTI) khususnya Teknologi Pangan, Sekolah Farmasi untuk aspek kesehatan, serta Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) untuk pengemasan produk.

Festival yang berkolaborasi dengan mitra tersebut bertujuan agar inovasi pangan hasil kurasi universitas tidak berhenti  di laboratorium, melainkan diadopsi oleh pelaku usaha untuk mendongkrak perekonomian masyarakat.

"Teman-teman peneliti dan mahasiswa sangat gembira karena hasil karya mereka tidak hanya berakhir di kelas, tetapi memberikan dampak nyata. Ke depan, kami berharap muncul banyak ide dari UMKM dan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi ITB ini guna meningkatkan perekonomian," ujar Andryanto.

 

 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Jabar targetkan ratusan Warisan Takbenda Aman Dengan Suntikkan Riset

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026