Dari segi ekonomi, nyai yang merupakan pekerja selama 10 tahun di perkebunan tersebut, mendapatkan upah bulanan di luar bonus kinerja jika hasil timbangan melebihi target, yang walau minim tetap ia syukuri.
"Waktu anak-anak masih sekolah saya harus banting tulang lagi mengambil borongan panen kopi atau lainnya. Tapi tetap saya syukuri, saat ini Alhamdulillah anak-anak saya satu lulus D3 dan satu lulus SMA," kata nyai.
Selain tantangan dalam pekerjaan, hasil wawancara yang dilakukan ANTARA mendapati bahwa para pekerja perempuan terkadang menghadapi tantangan akses, seperti akses penyampaian aspirasi serta akses fasilitas sanitasi saat bekerja.
Juga tantangan kesetaraan gender, salah satunya potensi kekerasan, baik di dunia kerja, lingkungan, maupun dalam rumah tangga. Dan lebih jauh, para perempuan tidak mengetahui harus bagaimana, atau melapor ke mana.
Kolaborasi menguatkan budaya setara
Kultur dan pemikiran sebagian besar masyarakat Indonesia, perempuan dianggap kelompok lebih "rentan" yang jadi pintu masuk terjadinya berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan tidak terkecuali di ekosistem masyarakat perkebunan.
Di tengah kondisi seperti itu, aspirasi dan masukan pekerja pemetik teh yang sebagian besar perempuan, kerap susah terealisasi di lingkungan kerja, padahal mungkin usulan tersebut sejatinya bermanfaat bagi keberlangsungan perkebunan itu sendiri.
CEO CARE Indonesia Dr Abdul Wahib Situmorang mengungkapkan, berbagai tantangan, salah satunya kesetaraan akses yang terjadi di lingkungan perkebunan, termasuk di industri teh itu sendiri, menjadi pendorong lembaga waralaba ini bersama para mitranya, mendampingi tiga desa kawasan perkebunan, yakni Desa Banjarsari (Malabar), Margaluyu (Pasir Malang), dan Indragiri (Nagara Kanaan), Kabupaten Bandung, guna membangun kekuatan dan pemberdayaan, khususnya bagi pemetik teh perempuan.
Proporsi pekerja di perkebunan, khususnya pemetik teh yang sangat vital bagi kelangsungan industri perkebunan teh, didominasi oleh perempuan, namun dukungan untuk mereka masih perlu diberdayakan, termasuk dalam penyampaian aspirasi, kesetaraan akses, ekonomi, perlindungan dari Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (KBG-KS) serta sanitasi.
Di balik vitalnya para pemetik teh, pendapatan mereka masih perlu peningkatan untuk turut menopang ekonomi keluarga dan lebih berkelanjutan, karena ada periode tertentu tidak bisa dipetik untuk memberikan waktu tumbuh bagi pohon teh.
"Padahal kebutuhan rumah tangga tidak bisa on off, sehingga kami lihat ada masalah. Belum lagi beban ganda yang mereka emban harus siap-siap sebelum kerja jam 4 pagi dan pulangnya harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Di tempat kerja juga ada beberapa masalah, seperti sanitasi, kebersihan, perlindungan, serta tidak adanya jenjang karir yang luas," kata Abdul.
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026