Kuningan (ANTARA) - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Barat memperkuat langkah pencegahan radikalisme digital yang kini menyasar anak muda melalui pola penyusupan baru, termasuk konten video gim dan algoritma media sosial.

Kepala Kesbangpol Jabar Wahyu Mijaya mengatakan ancaman radikalisme saat ini berkembang lebih halus, serta tidak lagi bergantung pada pola perekrutan tatap muka seperti sebelumnya.

“Terorisme sekarang sudah masuk melalui berbagai game yang dimainkan anak-anak. Setelah diarahkan pada kekerasan, kemudian masuk pada pemahaman terorisme,” kata Wahyu dalam keterangannya di Kuningan, Jabar, Jumat.

Ia menyampaikan pada beberapa model gim tertentu, terdapat simulasi yang menyerupai pembuatan bahan peledak, sehingga menjadi jalur baru bagi penyebaran ide ekstrem.

Menurut dia, pola penyusupan tersebut memanfaatkan kerentanan anak muda yang tengah berada dalam masa transisi psikologis serta minimnya kemampuan untuk menyaring informasi berbahaya.

Ia menilai radikalisme digital semakin mudah mengakar karena diperkuat oleh algoritma media sosial yang secara berulang menampilkan isu negatif, sehingga membentuk persepsi keliru.

“Kalau algoritma terus memasukkan isu negatif kepada anak-anak, itu akan menjadi pemahaman mereka. Di era post-truth, kebenaran sering dianggap berdasarkan seberapa masif isu itu beredar, bukan faktanya,” ujarnya.

Untuk menekan risiko tersebut, Kesbangpol Jabar saat ini tengah menyusun program pencegahan radikalisme digital bersama Densus 88 Antiteror, yang ditargetkan mulai berjalan dalam waktu dekat.

Ia menuturkan program tersebut akan menyasar siswa-siswi di tingkat sekolah, karena kelompok ini dinilai paling rentan terhadap penetrasi narasi ekstrem melalui internet.

Selain anak muda, Wahyu menyoroti perlunya meningkatkan edukasi kepada para ibu karena mereka memiliki ruang pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap dan cara berpikir anak di rumah.



Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026