Pihaknya pun sedang mengkaji ulang untuk mekanisme rekrutmen, agar kelompok difabel dapat bekerja sesuai keahliannya.
Perusahaannya, kata dia, sudah berkomitmen menjaring pekerja difabel sebagai upaya mewujudkan kesetaraan di sektor industri.
“Kami merekrut satu persen dari total karyawan untuk difabel. Untuk program magang ini untuk semua sektor, khususnya produksi. Namun tidak menutup kemungkinan kami buka untuk staf,” ujarnya.
Penyerapan difabel
Di Cirebon, jumlah difabel yang bekerja meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir. Data Forum Komunikasi Difabel Cirebon (FKDC) menunjukkan, sebanyak 293 difabel telah terserap di dunia kerja pada 2024, dibandingkan hanya 93 orang pada 2023.
Peningkatan ini didorong oleh regulasi yang menjamin hak difabel serta kolaborasi aktif antara komunitas, pemerintah daerah, dan pelaku industri.
Ketua FKDC Abdul Mujib menuturkan difabel fisik hingga tuli telah ditempatkan di berbagai sektor, termasuk minimarket, industri sepatu, alas kaki, hingga tekstil.
Peran mereka tersebar di berbagai posisi, mulai dari administrasi, kasir, hingga bagian produksi.
Kolaborasi yang dilakukan FKDC dengan pemerintah daerah telah memainkan peran penting. Sebagai contoh, pihaknya telah melaksanakan pelatihan berbasis gender, equity, disability, and social inclusion (GEDSI) sejak awal 2024. Kegiatan tersebut mempertemukan lebih dari 50 perusahaan dengan komunitas difabel.
Melalui pelatihan tersebut, perusahaan mulai dikenalkan pada potensi tenaga kerja difabel. Pemahaman mengenai spesifikasi kemampuan difabel terus ditingkatkan, sehingga keraguan untuk merekrut difabel dapat diminimalkan.
Pada sisi lain, lanjut Abdul, pelatihan ini juga membantu meningkatkan kepercayaan diri difabel untuk bersaing di dunia kerja.