Bandung (ANTARA) - Guys, Bandung di tahun 1958 ternyata punya cerita yang unik tapi relate, terutama buat kalian yang percaya nama itu punya “aura”.
Bayangin, ada dua desa yang minta ganti nama karena dianggap bikin sial dan nggak cocok sama vibes pembangunan zaman itu. Dari warga sampai pejabat, semua ikut gercep biar hidup lebih positive energy. Oke, langsung aja-ini berita aslinya, utuh tanpa diedit sedikit pun.
Bandung 25 Juni 1958 (Antara) - Menurut keputusan Gubernur Djawa Barat, desa Pasirreungit dan desa Tjisaar, termasuk ketjamatan Pamaritjan (kabupaten Tjiamis) masing2 telah diganti nama dengan desa Bantarsari dan desa Kertarahaju.
Penggantian nama itu adalah atas permintaan penduduk kedua desa tersebut pada bulan Mei jang lalu.
Alasan rakjat meminta penggantian nama itu ialah, karena nama Pasirreungit dan nama Tjisaar sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan dan dengan suasana pembangunan.
Selain itu djuga dikemukakan, bahwa nama2 lama itu menurut orang tua2 mengandung makna "naas" (sial) dan buruk, jang menimbulkan bentjana alam sadja, seperti bentjana bandjir.
Seperti diketahui, tiap tahunnja beberapa kali kedua desa tersebut terserang bandjir. Dengan penggantian nama diharapkan orang supaja kedua desa itu aka terhindar dari bentjana bandjir lagi.
Nah, itu dia guys-ternyata rebranding desa sudah ada jauh sebelum era TikTok dan Instagram. Warga zaman dulu pun percaya kalau ganti nama bisa ganti nasib, apalagi biar bebas dari bandjir yang rutin lewat tiap tahun. Siapa sangka keputusan itu bisa seviral ini kalau kejadian di zaman now?
Thanks udah baca sampai akhir-boleh banget share ke bestie yang suka sejarah unik kaya gini!
Baca juga: Drama cinta Bandung 1954: Kok bisa nikah 2 Kali dalam seminggu?
Baca juga: Bandung Auto Kagok tahun 1958! polisi sampe bikin "member card" copet
Baca juga: Rumah Gubernur Jabar dibobol tengah malam! Pelaku malah mandi santai sebelum kabur!
