Cirebon (ANTARA) - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga II Kota Cirebon, Jawa Barat, melakukan evaluasi internal usai adanya laporan terkait hidangan yang diduga basi dan mengandung ulat pada program Makan Bergizi (MBG) di SD Negeri Argapura Kecamatan Harjamukti.
Kepala SPPG Kalijaga II Alvin Raka di Cirebon, Senin, mengatakan pihaknya sedang menindaklanjuti laporan tersebut serta menegaskan kalau seluruh proses memasak hingga pendistribusian makanan selalu mengikuti standar yang ditetapkan.
“Dapur kami memang terdeteksi ada makanan basi, padahal proses memasak dilakukan sesuai prosedur,” katanya.
Ia menjelaskan prosedur yang dimaksud yaitu proses memasak makanan selalu dimulai pukul 03.00 dan selesai pukul 04.00 WIB. Lalu, distribusi hidangan dilakukan sekitar pukul 07.00 WIB.
Dia mengklaim sebelum disalurkan ke sekolah tersebut, menu untuk program MBG ini telah dilakukan uji organoleptik terhadap bau, rasa dan tampilan makanan.
Pihaknya menduga hidangan basi itu kemungkinan bisa terjadi, karena waktu penyimpanannya cukup lama setelah proses distribusi dilakukan.
“Kalau terkait temuan ulat, mungkin asalnya dari kacang panjang. Kami menggunakan bahan organik tanpa pestisida. Saat pembersihan bisa saja terlewat,” katanya.
Setelah mencuatnya temuan ini, kata dia, SPPG Kalijaga II bakal memperketat pengawasan untuk meningkatkan kualitas pelayanan MBG.
Selain itu, ia meminta agar menu MBG di SDN Argapura tidak dikonsumsi sebelum hasil pemeriksaan laboratorium terkait sampel makanan tersebut resmi keluar.
“Tadi sampelnya sudah diambil oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon, untuk pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
Alvin menuturkan fasilitasnya mendistribusikan sekitar 470 porsi menu MBG di sekolah tersebut, sedangkan secara keseluruhan pihaknya menyalurkan 3.300 porsi untuk 14 titik di Kelurahan Argasunya dan Kalijaga.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Argapura Kota Cirebon Syafei menyampaikan peristiwa tersebut bermula dari video viral di media sosial, yang memperlihatkan wali murid menegur penyedia MBG karena makanan yang diterima diduga basi serta mengandung ulat.
Dia mengungkapkan sebelumnya, sekolahnya pernah menerima makanan dalam kondisi tidak layak konsumsi, salah satunya menu jamur yang beraroma tidak sedap.
Syafei menegaskan pihak sekolah hanya menghentikan pembagian makanan yang terbukti basi, sedangkan menu lain tetap dibagikan jika dinilai aman.
“Atas kejadian ini, saya berharap penyedia MBG maupun koperasi sekolah lebih teliti dan memperhatikan waktu memasak agar makanan tetap segar hingga diterima siswa,” ucap dia.
