SPPG Cijayanti bekerja sama dengan Koperasi Merah Putih setempat dan pelaku UMKM dalam menyiapkan bahan baku.
Sementara dalam proses memasak hingga penyajian, katanya, juga dipastikan berjalan sesuai standar kebersihan dan keamanan agar menu tetap sehat dan higienis, dan dilakukan dengan melakukan sejumlah tes, termasuk tes organoleptik oleh ahli gizi.
Uji organoleptik meliputi penglihatan dengan mengevaluasi penampilan atau warna suatu produk, pengecapan dengan menilai profil rasa, termasuk rasa manis, asin, asam, pahit, dan gurih, serta sensasi lain seperti pedas. Kemudian, penciuman dengan menganalisis aroma atau bau, dan peraba dengan mengukur tekstur, termasuk faktor kekenyalan atau kerenyahan.
Menu yang disajikan setiap hari berbeda agar para penerima manfaat lebih variatif dalam menikmati MBG yang sehat dan bergizi. "Siklusnya tujuh hari sekali," katanya.
Savira mengatakan akan terus meningkatkan kualitas gizi dan keragaman menu MBG, termasuk membangun komunikasi yang lebih interaktif melalui media sosial agar tetap responsif.
Mengenai sejumlah kasus keracunan yang menimpa penerima manfaat, Savira turut prihatin dan kejadian di lain daerah tersebut menjadikan dirinya untuk mawas diri dan makin meningkatkan quality control dari penyiapan bahan baku hingga setelah menu MBG terdistribusi dan dikonsumsi.
"Jangan sampai ada kejadian seperti itu," katanya.
Ia mengaku sependapat dengan perlunya evaluasi dari pemerintah terhadap SPPG, termasuk persyaratan bahwa SPPG harus memiliki Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi (SLHS), bahkan bersertifikat halal.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: SPPG Cijayanti 2 beroperasi sejak 15 September, tak ada keluhan
