Bandung (ANTARA) - Rumput liar dan tanaman di pinggiran sungai Kabupaten Karawang, Jawa Barat, saat ini mampu bernilai ekspor setelah disulap menjadi kerajinan bunga tekan (pressed flower) yang menembus pasar Hong Kong hingga China.

Adalah Sani Supriatin, warga Kampung Cidampa, sosok di balik jenama Buteka (Bunga Tekan Karawang) yang berhasil mengubah gulma menjadi produk seni bernilai ekonomi tinggi seperti aksesori, hiasan dinding, hingga lukisan kanvas seharga ratusan ribu rupiah.

"Awalnya saya hanya ikut pelatihan merangkai bunga kering pada tahun 2011. Dari situ saya terus belajar dan akhirnya menekuni Buteka secara lebih serius," ujar Sani di Karawang, Senin.

Keunggulan produk Buteka terletak pada bahan baku organik yang dikeringkan melalui teknik pres khusus.

Selain ramah lingkungan, kerajinan ini diklaim tahan banting karena tidak memiliki masa kedaluwarsa.

Bahan bakunya pun sederhana, yakni memanfaatkan tanaman yang tumbuh di sekitar rumah dan sungai yang dikumpulkan oleh ibu-ibu warga sekitar.

Keberhasilan Buteka naik kelas hingga mampu menjual lebih dari 100 produk per bulan tidak lepas dari sokongan PT Pindo Deli Pulp and Paper Karawang (APP Group).

Perusahaan tersebut memberikan inkubasi bisnis, pelatihan, hingga fasilitasi pameran di berbagai kota besar.

Koordinator Humas & CSR Pindo Deli Karawang Andar Tarihoran dalam keterangan yang diterima di Bandung, menyebut Buteka sebagai contoh nyata potensi lokal yang mampu membangun kemandirian ekonomi inklusif, sekaligus mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama kesetaraan gender dan pertumbuhan ekonomi desa.

"Melalui program pembinaan, kami mendorong pelaku UMKM seperti Buteka agar naik kelas dan memiliki akses pasar yang lebih luas," kata Andar.

Meski berbahan baku rumput liar, proses pembuatannya memerlukan ketelatenan tinggi. Harga yang ditawarkan pun kompetitif, mulai dari Rp15.000 untuk gantungan kunci hingga Rp500.000 untuk lukisan kanvas besar, tergantung tingkat kerumitan artistiknya.

Saat ini, pemasaran Buteka telah merambah ranah digital melalui berbagai platform e-commerce dan media sosial, menjadikannya bukti bahwa kreativitas berbasis alam pedesaan mampu bersaing di kancah global.



Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026