Bandung (ANTARA) - Jurusan Sastra Indonesia sering sekali menjadi backburner atau pilihan kedua saat memilih jurusan kuliah. Realitasnya banyak pelajar yang memilih jurusan Sastra Indonesia berdasarkan passing grade yang rendah dan kelonggaran peminat sebagai sebuah pilihan “aman”, sementara mereka sebenarnya memiliki jurusan utama yang persaingannya lebih ketat.
Stigma masyarakat memandang jurusan ini tidak potensial dan tidak bergengsi. Sebagian orang beranggapan ruang lingkup studi Sastra Indonesia tidak terlalu penting untuk dipelajari, terlebih untuk masyarakat Indonesia asli yang fasih berbahasa Indonesia. Mereka lebih memilih atau merekomendasikan jurusan bahasa asing, karena dinilai lebih menguntungkan.
Jurusan ini meliputi kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, memberikan pemahaman bahasa, budaya, dan sastra secara mendalam, serta melatih berpikir kritis dan analitis. Ada berbagai hal menyenangkan yang dipelajari di Sastra Indonesia, seperti membuat film, menulis cerita rekaan, merancang pertunjukan teater, hingga mempelajari BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing).
Identik dengan ungkapan “Lulus mau jadi apa?”, sebenarnya Sastra Indonesia memberikan peluang karier yang sangat fleksibel, mulai dari pekerja media, akademisi, hingga di dunia kreatif dan digital. Ada banyak profesi yang dapat diambil, seperti menjadi penulis, penyunting, jurnalis, pengajar, penerjemah, content writer, atau copywriter.
Untuk melawan stigma backburner, Sastra Indonesia butuh apresiasi yang lebih besar atas peran pentingnya dalam membangun identitas bangsa, juga sebagai alat diplomasi budaya melalui berbagai media dan kegiatan, seperti menerjemahkan dan mempopulerkan karya sastra nasional, serta mengadakan pertukaran pelajar dan akademisi.
Tips dari mahasiswa Sastra Indonesia, yaitu penting untuk terbuka dalam proses dan pengalaman belajar, serta tidak pesimis dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sastra. Selain itu, direkomendasikan untuk aktif mengeksplorasi organisasi, lomba, atau magang untuk mendapatkan pengalaman di luar kelas.
Menjadi backburner atau pilihan kedua memang tidak menyenangkan, tetapi pilihan kedua ini mungkin menjadi pilihan terbaik, karena kesuksesan tidak ditentukan oleh pilihan awal, melainkan bagaimana kita menjalaninya. Sastra Indonesia bukan cinta pertama, tapi bisa jadi cinta terakhir jika ditekuni dan dijalani dengan niat yang baik dan motivasi besar!
