Bandung (ANTARA) - Komisi VII DPR RI mendorong pemerintah segera menyusun Grand Design Vokasi Industri Nasional guna memperkuat peran lembaga pendidikan vokasi seperti Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung dalam mencetak sumber daya manusia unggul bagi industri Indonesia.
"Ada sejumlah tantangan struktural yang dihadapi lembaga pendidikan vokasi, termasuk penganggaran yang minim. Dan saya melihat belum adanya roadmap atau Grand Design Vokasi Industri Nasional dari kementerian terkait. Padahal, peran pendidikan vokasi seperti STTT Bandung ini sangat strategis dalam mencetak manusia industri unggulan untuk masa depan bangsa," kata anggota Komisi VII DPR RI Erna Sari Dewi selepas kunjungan kerja spesifik ke STTT Bandung, Senin.
Kondisi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional, kata Erna, saat ini tengah mengalami tekanan yang cukup besar, sehingga penyiapan kerangka besar pendidikan vokasi harus menjadi prioritas agar industri mampu bertahan dan berkembang menghadapi tantangan global.
"Kita tahu industri kita sedang tidak baik-baik saja. Tapi kita juga melihat adanya potensi besar. Di tahun 2033, diproyeksi potensi pertumbuhan industri tekstil kita bisa mencapai 22,4 miliar dolar AS. Karenanya harus ada langkah percepatan dari kementerian terkait," ujarnya.
Lebih lanjut Erna menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM di STTT Bandung dan lembaga vokasi serupa di seluruh Indonesia, dengan harapan lulusannya tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu menjadi pelaku utama dalam proses industrialisasi nasional maupun global.
"Kalau SDM kita tidak dibangun sejak dini dan disiapkan untuk bersaing di dunia industri, maka akan tertinggal. STTT Bandung ini harus jadi motor penggerak," ujarnya.
Menurut dia, optimalisasi sektor pendidikan vokasi di bidang tekstil juga akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan negara dari sektor tersebut.
"Jika pengembangan SDM dan dukungan infrastruktur dilakukan dengan serius, maka sektor tekstil kita akan menjadi penyumbang signifikan terhadap pendapatan negara," tutur Erna.
