Kota Bandung (ANTARA) - Komisi VII DPR RI mendorong PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk memperkuat daya saing dalam meningkatkan industri pertahanan nasional.
“Industri pertahanan harus terus dikejar pengembangannya. Jangan sampai kita tertinggal di Asia, bahkan di ASEAN saja kita harus kuat dan kokoh,” kata Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay usai melakukan kunjungan kerja ke PT DI di Bandung, Senin.
Saleh mengatakan industri pertahanan yang kuat tidak hanya relevan bagi kebutuhan pertahanan negara, tetapi juga memiliki peran strategis berbagai kepentingan kemanusiaan, mulai dari penanggulangan bencana, distribusi logistik, pelayanan kesehatan, hingga dukungan untuk kebutuhan masyarakat.
“Dalam situasi damai, alat-alat pertahanan sangat berguna untuk bantuan bencana, distribusi logistik, pengiriman tenaga pendidik, alat kesehatan, dan berbagai kebutuhan masyarakat lainnya,” katanya.
Lebih lanjut, Saleh menegaskan PT DI perlu segera menyelesaikan persoalan internal, terutama terkait arus kas dan beban keuangan masa lalu.
Tanpa penyelesaian masalah tersebut, kata dia, perusahaan akan sulit berkembang dan bersaing dengan produsen dirgantara global.
“Kami mendorong agar pemerintah mengalokasikan anggaran yang cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut, terutama untuk pelunasan utang masa lalu. Dengan demikian PT DI bisa membuka lembaran baru dan memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional,” kata dia.
Ia menambahkan, selama ini Indonesia masih banyak memesan pesawat dari luar negeri sehingga menjadikan Indonesia sebagai pasar, padahal kemampuan produksi dalam negeri memiliki potensi ekonomi yang besar.
