Kuningan (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mencatat capaian Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di daerahnya pada Desember 2025 mencapai 37,64 persen atau naik 5,12 poin dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 32,52 persen.
Kepala BPS Kabupaten Kuningan Urip Sugeng Santoso dalam keterangannya di Kuningan, Kamis, mengatakan kenaikan tersebut ditopang peningkatan okupansi hotel berbintang selama periode libur akhir tahun.
Ia mengemukakan kegiatan seperti festival budaya, pertunjukan hiburan rakyat, serta agenda komunitas turut mendorong kenaikan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kuningan.
Menurut dia, hotel berbintang memperoleh dampak lebih besar karena banyak digunakan untuk kegiatan instansi, pertemuan, serta acara yang terorganisir.
“Ini menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan TPK secara keseluruhan di Kabupaten Kuningan,” katanya.
Ia menjelaskan secara bulanan kinerja hotel berbintang menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan, meskipun secara tahunan masih lebih rendah dibandingkan Desember 2024 yang mencapai 54,37 persen.
Sementara itu, kata dia, hotel non-bintang juga mengalami peningkatan okupansi dengan TPK tercatat 26,58 persen pada Desember atau naik 2,40 poin dibandingkan November 2025.
Ia menyampaikan pula aktivitas akhir tahun juga berdampak pada rata-rata lama menginap tamu (RLMT), yakni tercatat 1,10 malam pada Desember 2025.
Pihaknya merinci di hotel berbintang, RLMT mencapai 1,16 malam, dengan tamu asing mencatat rata-rata lama menginap 6,52 malam dan tamu domestik 1,14 malam.
Urip menilai perbaikan kinerja perhotelan tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor pariwisata daerah, meski diperlukan penguatan promosi dan pengembangan agenda agar tingkat okupansi semakin membaik.
Sebelumnya, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) mencatat total kunjungan wisatawan selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 tercatat mencapai 242.068 orang di berbagai objek wisata di Kuningan.
Kepala Disporapar Kabupaten Kuningan Asep Budi Setiawan menyampaikan ramainya kunjungan tersebut, harus diimbangi pengelolaan yang baik agar manfaat ekonomi dapat dirasakan tanpa mengabaikan aspek lingkungan dan keselamatan.
Ia menekankan perkembangan pariwisata di Kuningan yang didominasi wisata alam dan kuliner, menuntut kesiapan sarana serta prasarana agar pelayanan kepada wisatawan tetap optimal.
Atas dasar itu, Disporapar secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengelola usaha wisata, disertai pembinaan teknis agar pengelolaan sesuai standar pelayanan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.
“Kami pun mendorong pelaku usaha melengkapi perizinan, termasuk kesesuaian ruang, aspek lingkungan, persetujuan bangunan gedung, hingga sertifikat laik fungsi,” katanya.
