Raungan mesin modifikasi dengan ketinggian tidak lebih dari 4 meter ini semakin berisik saat mata bor melubangi tanah hingga kedalaman 12 meter.
Lubang-lubang yang menganga itu kelak diisi besi dan material cor untuk menjadi pondasi bore pile dari sebuah bangunan cagar budaya berumur 1 abad yang bernama Gedung Algemeen Nieuws- en Telegraaf- Agentschap yang kini disebut Gedung Aneta pada kompleks Antara Heritage Center di Pasar Baru.
Willy Aryansah, seorang manajer proyek dari Nindya Karya yang mengepalai revitalisasi gedung cagar budaya Antara Heritage Center, mengungkapkan tantangan terbesar ada di Grya Aneta lantaran gedung yang dibangun era kolonial Belanda itu telah berusia 1 abad.
"Saat kami mulai renovasi, yang tersisa hanya bagian depannya yang ada menara jam. Bagian belakang gedung bisa dikatakan sudah roboh termakan usia sehingga sudah tidak bisa ditempati," ujarnya saat ditemui di Jakarta, pada pengujung April 2024.
Proses pembangunan Grya Aneta paling berkesan bagi para pekerja proyek karena sebelum dilakukan renovasi, kondisi bangunan yang cukup baik hanya ditemui pada area menara dan ruangan Adam Malik. Adapun area belakang dapat dikatakan sudah tidak berbentuk.
Akses yang terbatas menyebabkan proses renovasi hanya dapat dilakukan dari sisi tengah saja. Pada sisi lain bangunan itu merupakan permukiman penduduk yang tidak bisa digunakan sebagai akses kerja.
Grya Aneta harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan pada area Taman Langit. Jembatan penghubung antar gedung yang disebut Taman Langit merupakan satu-satunya akses yang memungkinkan untuk manuver alat konstruksi.
Tantangan akses terbatas dan lahan sempit itulah yang menghabiskan waktu 3 -- 4 bulan lantaran pemugaran keempat massa bangunan tidak bisa dikerjakan sekaligus, tetapi satu per satu bergantian.
Pewarta: Sugiharto PurnamaEditor : Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.