Bandung (ANTARA) - Geliat Sesar Lembang dalam beberapa minggu terakhir menjadi alarm nyaring yang mengingatkan jutaan warga di Cekungan Bandung bahwa mereka hidup di atas "bom waktu geologis".
Para ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan bahwa patahan sepanjang 29 kilometer yang membentang dari Cilengkrang, Kabupaten Bandung, hingga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu menyimpan potensi ancaman serius.
Ancaman ini bukanlah lagi sekadar teori, melainkan risiko nyata yang telah mendorong Pemerintah Kota Bandung menyiapkan enam titik evakuasi massal dan Bupati Bandung Barat menerbitkan surat edaran kewaspadaan.
Namun patut disayangkan, di tengah keseriusan persiapan teknis dan struktural, ada aset sosial berharga yang belum terberdayakan: perempuan.
Alih-alih dilibatkan sebagai aktor kunci, perempuan dan kelompok rentan lainnya masih terkungkung dalam label 'korban'. Mengabaikan potensi mereka merupakan bentuk kelalaian strategis yang akan kita sesali. Oleh karena itu, memberdayakan perempuan sebagai garda terdepan dalam mitigasi bencana Sesar Lembang menjadi sebuah keharusan, demi menciptakan masyarakat yang benar-benar siap dan tangguh.
Multiperan Perempuan
