Pengalaman di berbagai negara membuktikan bahwa perempuan mampu berada di garda depan dalam penanggulangan bencana.

Hasil kajian Suliman Abdalla dkk (2024) bertajuk Enhancing gender-responsive resilience: The critical role of women in disaster risk reduction in Oman menyebutkan disaster risk reduction (DRR) yang responsif gender lebih efektif karena perempuan membawa pengetahuan lokal, jejaring sosial, serta kepemimpinan dalam komunitas.

Dalam kerangka inilah konsep community-based disaster risk management menjadi relevan. Konsep ini menempatkan masyarakat sebagai pusat upaya mitigasi, dengan menekankan partisipasi aktif seluruh lapisan, termasuk perempuan. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa ketika perempuan dilibatkan, strategi pengurangan risiko bencana menjadi lebih berkelanjutan, inklusif, dan efektif.

Contohnya, di Bangladesh, perempuan desa memimpin sistem peringatan dini dan saat Cyclone Sidr 2007 berhasil menyelamatkan ribuan jiwa. Di Jepang, pasca Gempa dan Tsunami Tohoku 2011, kelompok perempuan mengelola dapur umum, pusat evakuasi, dan membentuk Women’s Network for East Japan Disaster.

Di Nepal, setelah gempa 2015, perempuan berperan penting dalam pendidikan darurat, dukungan psikososial, hingga distribusi logistik. kontribusi yang diakui pemerintah dalam strategi Build Back Better.

Sementara itu di Filipina, organisasi perempuan Gabriela aktif mengadvokasi kebutuhan perempuan dan anak di posko pengungsian pasca Topan Haiyan 2013.

Semua contoh tersebut menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar korban bencana, melainkan aktor utama yang berperan sebagai pemimpin komunitas, produsen pengetahuan lokal, sekaligus penggerak ketangguhan sosial.

Potensi Perempuan di Sesar Lembang



Pewarta: Rinda Aunillah*
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026