Di tengah narasi besar mengenai ancaman Sesar Lembang, kekuatan sesungguhnya justru tumbuh dari akar rumput. Kecamatan Lembang sejatinya punya banyak komunitas relawan yang aktif menggelar sosialisasi dan pelatihan bencana. Mereka berkiprah secara aktif di tengah berbagai kendala fasilitas, koordinasi, bahkan dokumentasi.
Salah satu yang menonjol adalah Kelompok Masyarakat Peduli Bencana (KMPB) di Desa Sukajaya, dengan mayoritas anggotanya perempuan. Kelompok ini secara konsisten memprakarsai simulasi evakuasi, mengelola dapur umum ketika terjadi bencana, hingga merawat pengetahuan lokal dengan membuat narasi kebencanaan sebagai bahan literasi untuk masyarakat. Kiprah mereka memperlihatkan bahwa perempuan bukan hanya pendukung, melainkan aktor penting dalam membangun kesiapsiagaan di tingkat komunitas.
Kiprah mereka merupakan perwujudan nyata konsep gender mainstreaming (pengarusutamaan gender) dalam pengurangan risiko bencana yang diusung Ginige dkk. (2009).
Praktik ini sejalan dengan pandangan global yang mengakui bahwa kepekaan perempuan terhadap risiko di lingkungan terdekatnya dan kecenderungan mereka untuk lebih aktif dalam tindakan pencegahan adalah elemen krusial untuk memperkuat kapasitas adaptasi masyarakat.
Temuan riset yang dilakukan tim Universitas Padjadjaran sepanjang 2023-2025 di kawasan Sesar Lembang menegaskan hal tersebut. Perempuan relawan kebencanaan di Sesar Lembang tidak sekadar berperan di lingkup rumah tangga, mereka menjadi komunikator informasi kebencanaan, relawan lapangan, hingga penggerak sosial. Motivasi mereka sederhana: panggilan hati dan nilai kemanusiaan untuk melindungi keluarga serta lingkungan sekitar.
Namun, jalan yang mereka tempuh tidak selalu mulus. Perempuan masih sering absen dalam forum pengambilan keputusan, sehingga suara dan perspektif mereka kerap terpinggirkan.
Akses pada pelatihan teknis juga terbatas, terutama dalam hal keterampilan digital untuk memproduksi konten literasi bencana yang menarik dan mudah dipahami masyarakat. Padahal, pengalaman global menunjukkan bahwa perempuan adalah komunikator yang efektif, terlebih ketika informasi harus menjangkau kelompok rentan.
Oleh karena itu, keterlibatan perempuan dalam mitigasi bencana bukan hanya persoalan keadilan gender, melainkan soal efektivitas. Suara perempuan mampu menjembatani kesenjangan informasi, memperkuat daya tahan keluarga, dan menumbuhkan solidaritas sosial.
Hari-hari ini, ketika kewaspadaan terhadap Sesar Lembang kembali digaungkan, sudah saatnya ruang yang lebih luas diberikan bagi perempuan. Biarkan mereka tampil sebagai pemimpin komunitas, produsen literasi bencana, sekaligus penggerak perubahan. Sebab ketika bencana datang, perempuan bukan sekadar korban, mereka adalah garda depan yang ikut menyelamatkan.
*Rinda Aunillah adalah Dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi-Universitas Padjadjaran, tergabung dalam Tim Peneliti di Pusat Studi Komunikasi Lingkungan-Unpad.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Perempuan, garda depan mitigasi bencana sesar lembang
Pewarta: Rinda Aunillah*Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.