Jakarta (ANTARA) - Harga Bitcoin (BTC) masih berjuang untuk menembus angka psikologis 100.000 dolar AS setelah adanya peretasan salah satu platform perdagangan kripto, Bybit, yang memicu aksi jual besar-besaran.
Saat berita ini ditulis, harga Bitcoin tercatat 95.803 dolar AS per 1 Bitcoin.
Baca juga: Bitcoin dinilai memiliki peluang capai level baru
“BTC sempat melonjak ke level tertinggi mingguan di 98.940 dolar AS sebelum mengalami penurunan tajam lebih dari 4.000 dolar AS, mencapai titik terendah tiga hari di 94.800 dolar AS. Penurunan ini menciptakan pola bearish engulfing, sementara pasar kripto lebih luas mengalami likuidasi lebih dari 600 juta dolar AS,” kata Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan harga Bitcoin adalah pelanggaran keamanan di Bybit yang menyebabkan hilangnya sekitar 1,4 miliar dolar AS dalam bentuk Ethereum (ETH). Insiden ini menjadi salah satu peretasan terbesar dalam sejarah kripto dan langsung berdampak pada pasar.
Bitcoin, yang sebelumnya mendekati angka psikologis 100.000 dolar AS, langsung mengalami koreksi dan kembali ke kisaran konsolidasi.
Selain faktor peretasan, kondisi makroekonomi juga turut memengaruhi pergerakan harga Bitcoin. Data ekonomi terbaru menunjukkan pelemahan di Amerika Serikat (AS), dengan indeks manajer pembelian atau price managers’ index (PMI) sektor jasa berada di titik terendah dalam dua tahun terakhir.
Investor kini menantikan rilis data inflasi produk domestik bruto (PDB) dan core personal consumption expenditures (PCE) yang dapat semakin mengguncang pasar.
Fyqieh menuturkan, data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini meliputi keyakinan konsumen pada Selasa (25/2), data penjualan rumah baru pada Rabu, serta data PDB kuartal keempat pada Kamis.
"Angka pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari perkiraan bisa mengurangi peluang pemangkasan suku bunga, sementara angka yang lebih rendah dapat memberikan alasan bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya," ucapnya.
Jumat ini (28/2), laporan PCE bulan Januari akan dirilis, yang digunakan sebagai indikator utama inflasi oleh pembuat kebijakan The Fed.
Sementara itu, sidang Komite Perbankan Senat pada Rabu (26/2) mengenai "Exploring Bipartisan Legislative Frameworks for Digital Assetsl" dapat memberikan dampak positif bagi pasar kripto.
Selain itu, Nvidia juga akan melaporkan pendapatannya, yang berpotensi memengaruhi aset kripto terkait kecerdasan artifisial (AI). Beberapa perusahaan penambang kripto besar seperti Riot, Marathon, Bitdeer, Terawulf, dan Core Scientific juga akan merilis laporan pendapatannya pekan ini.
Lebih lanjut dalam analisanya, Fyqieh menjelaskan Market Cap kripto turun 2,3 persen dalam 24 jam terakhir menjadi 3,28 triliun dolar AS. Namun, pasar tetap terkonsolidasi pada level saat ini selama seminggu terakhir, sebagian besar pulih dari dampak peretasan Bybit.
Bitcoin turun tipis setelah jatuh di bawah 96.000 dolar AS selama sesi perdagangan Asia pada Senin pagi.
Volatilitas tetap rendah, dengan BTC masih berada dalam kisaran ketat sepanjang bulan ini. Ethereum telah pulih sepenuhnya dari berita peretasan, sempat menyentuh level tertinggi intraday 2.835 dolar AS sebelum kembali turun ke 2.688 dolar AS pada saat penulisan berita ini.
Indikator teknikal menunjukkan tekanan bearish yang masih mendominasi pasar. Relative Strength Index (RSI) dalam skala harian dan 4 jam tetap berada di wilayah bearish, mengindikasikan kemungkinan penurunan lebih lanjut.
Selain itu, Exponential Moving Average (EMA) 100 hari di 94.100 dolar AS menjadi level support penting.
Jika terjadi penembusan di bawah level ini, tekanan jual dapat meningkat, mendorong BTC menuju level yang lebih rendah.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan pada 95.803 dolar AS per 24 Februari, dengan pasar masih dalam kondisi tidak menentu.
"Kegagalan Bitcoin untuk bertahan di atas 98.940 dolar AS serta ketidakpastian pasar yang lebih luas menyoroti lemahnya tren naik. Trader perlu mengawasi apakah BTC dapat merebut kembali 98.940 dolar AS atau justru menembus di bawah EMA 100 hari, yang bisa memicu koreksi lebih dalam," kata Fyqieh.
Berdasarkan tren tersebut, Fyqieh mengatakan Bitcoin hampir menciptakan pola golden cross sebelum peretasan Bybit memicu aksi jual dari 98.000 dolar AS ke 95.000 dolar AS dalam waktu singkat.
Saat ini, EMA jangka pendek masih berada di bawah EMA jangka panjang, menandakan tekanan jual yang dominan. Jika penjual terus mengontrol pasar, Bitcoin dapat menguji kembali dukung di 94.818 dolar AS.
“Jika level ini gagal bertahan, BTC bisa turun lebih lanjut ke 93.415 dolar AS atau bahkan 91.300 dolar AS. Namun, jika harga berhasil pulih dari level ini, tren turun mungkin mulai melemah,” jelasnya.
Dalam skenario bullish, Bitcoin bisa kembali menguji resistance di 97.756 dolar AS, dan jika berhasil menembusnya, BTC bisa melaju ke 100.000 dolar AS, dengan target berikutnya di 102.668 dolar AS.
Dengan kondisi pasar yang masih rapuh, Fyqieh mengimbau investor dan trader untuk terus memantau indikator teknikal untuk menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya.
Baca juga: Bitcoin berpotensi lanjutkan tren kenaikan harga
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bitcoin berjuang di bawah 100.000 dolar AS imbas peretasan Bybit