Ngamprah, 2/8 (ANTARA) - Pemkab Bandung Barat keberatan jika warganya dituduh banyak yang berprofesi sebagai pekerja seks komersil yang sering mangkal disejumlah warung remang-remang di Cibogo dan Cikalongwetan Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Kasi Pelayanan dan Tuna Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi KBB, Eddy Wardani, Senin, menyebutkan berdasarkan data saat sidak pihaknya menemukan 10 pekerja seks komersial (PSK) di Cibogo dan 5 orang di Cikalongwetan.
Menurutnya, dari 35 warung di Cibogo diantaranya terdapat warung remang-remang (warem).
''Tidak ada warga asli KBB maupun asal KBB yang melakukan layanan 'plus-plus' baik itu Cibogo maupun Cikalongwetan, kebanyakan dari luar KBB'' tandasnya.
Lebih lanjut dirinya mensinyalir masih banyak pekerja hiburan malam yang juga melayani "plus-plus" yang sulit terdeteksi.
"Mereka sulit dibedakan antara pelayan biasa maupun pelayan plus-plus. Sebab, biasanya untuk layanan plus-plus tidak dilakukan di tempat tersebut melainkan di luar KBB. Tempat hiburan yang kini berjalan hanya sebagai transitnya daerah lain yang diduga sering bertransaksi layanan plus-plus," ungkapnya.
Sementara itu, Kabid Pelayanan Sosial, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Atot Kustawa mengungkapkan, apapun namanya baik PSK maupun pelayan plus-plus pihaknya akan terus memberantasnya. Sebab hal itu sudah menjadi penyakit masyarakat.
"Untuk itu, kami melakukan pendataan pada awal tahun ini, jumlahnya pun menurun drastis dibandingkan pada tahun sebelumnya," kata Atot.
Ia menyebutkan, jumlah pelayan warem yang ada di Cipatat sebanyak 38. Sedangkan pemilik warung di tempat yang sama sebanyak 20 orang. "Di Cikalong Wetan, ada 67 warung yang didata. Dari data itu 60 persen di antaranya merupakan warung remang-remang," paparnya.
Namun, Atot tidak bisa menyebutkan berapa jumlah wanita tuna susila (WTS) yang terdata. "Mereka semua mengaku hanya sebagai pelayan warung, bukan melayani pria hidung belang," katanya.
Ia juga mengaku pihaknya akan melakukan pendataan ulang lagi pada awal Agustus ini. Rata-rata pelayan warung itu berusia antara 21 hingga 35 tahun. Mereka berasal dari kota yang tersebar di Jawa Barat, seperti dari Sukabumi, Garut, dan Bogor . Pendataan ini dilakukan untuk penyelenggaraan penyuluhan dan bimbingan sosial.
"Alokasi anggaran pada tahun ini sebesar Rp45 juta. Kurang lebih sama dari tahun sebelumnya," ujarnya.
Pembinaan ini dilakukan agar para pelayan warem bisa beralih profesi. Kendala yang ditemui adalah sering berpindahnya pelayan ini ke tempat lain.***3***
