Cirebon (ANTARA) - Kepul uap dari sega lengko berpadu apik dengan tajamnya aroma bawang goreng. Kelezatan nasi berselimut bumbu kacang dengan irisan tahu-tempe inilah yang menjadi salah satu sumber energi warga di Cirebon, Jawa Barat, untuk memulai pagi.

Nasi dalam sega lengko tak hadir begitu saja. Setiap bulirnya lahir dari peluh petani yang rela tersengat terik mentari saban hari demi merawat padi.

“Beras tentunya datang dari hasil kerja keras petani,” kata penjual sega lengko bernama Wawan (51) kepada ANTARA, Kamis (14/5).

Sejak 2001, ia berjualan hidangan khas Cirebon itu dan menjaga konsistensi rasa. Kuncinya bukan pada gurihnya bumbu kacang. Sebaliknya, kualitas beras justru menjadi penentu.

Ia memakai beras premium untuk menjaga tekstur hidangan ini tetap pulen. Saat nasi matang sempurna, maka sega lengko terasa lebih nikmat.

Saat panen padi melimpah, ia mengaku lebih gampang mendapatkan beras berkualitas.

Kemudahan tersebut bukan tanpa alasan. Jauh melampaui urusan sepiring sega lengko, produksi beras di Cirebon selalu surplus dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Nasi lengko yang menjadi makanan khas di Cirebon, Jawa Barat, Kamis (14/5/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.

Dinas Pertanian (Distan) Cirebon mencatat produksi beras sepanjang 2025 mencapai 296.416 ton dengan angka surplus 67.106 ton.

Ketangguhan pangan tersebut terus terjaga. Pada periode Januari hingga April 2026, produksi Gabah Kering Giling (GKG) tercatat 139.811 ton atau setara 89.633 ton beras.

Kepala Distan Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya menyebutkan capaian ini memastikan pasokan beras, tetap tersedia untuk mengenyangkan perut masyarakat.

Bergeliat

Aktivitas panen padi masih berlangsung pada Mei 2026, misalnya di Desa Winong, Cirebon. Kala ANTARA menyambangi wilayah tersebut, terdengar bunyi mesin perontok yang memecah lengang di tengah lahan terbuka.

Seorang petani berkaus ungu duduk di tepi pematang sambil memandangi sawah yang baru selesai dipanen. Wajahnya kusam karena sering terpapar matahari dan debu.

Namanya Rojai (51), Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Makmur, yang sedang mengikuti proses panen padi di Desa Winong.

Gapoktan yang dipimpinnya menaungi enam poktan dengan total lahan sekitar 125,5 hektare. Sebanyak 208 petani menggantungkan hidup dari sawah tersebut.

Panen kali ini menjadi penutup musim tanam pertama. Setelah gabah diangkut, petani akan kembali membajak lahan untuk menyambut musim berikutnya.

Pada awal tahun ini tanaman padi sempat terserang hama tikus. Namun hasil panen masih cukup baik, rata-rata mencapai 6-7 ton per hektare.

Meski demikian, diakui Rojai, ada hal lain yang lebih menentukan ketenangan petani saat panen tiba yakni harga gabah.

Hampir 40 tahun ia hidup sebagai petani. Dulu, panen raya sering menjadi masa yang membuat petani cemas. Saat gabah melimpah, harga di tingkat petani bisa turun karena permainan tengkulak.

Sekarang keadaan berubah. Harga gabah di lapangan berada di kisaran Rp7.400 per kilogram. Angka itu muncul setelah pemerintah menetapkan nilai pembelian sebesar Rp6.500 per kilogram.

Rojai mengatakan Bulog telah menerapkan kebijakan ini. Kehadiran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut membuat tengkulak atau bandar beras ikut bersaing mendapatkan hasil panen petani.

Rojai tersenyum kecil ketika menceritakan perubahan itu. Sebab, Bulog kini berperan seperti “wasit” di tengah permainan harga gabah.

“Kalau mereka menawarkan di bawah harga Bulog, mereka tidak dapat barang,” katanya.

Berkat hal tersebut pula, lahan-lahan yang sebelumnya tidak digarap pun mulai kembali diolah menjadi sawah produktif.

Adapun biaya pengelolaan sawah secara konvensional bisa mencapai sekitar Rp10 juta per hektare, termasuk untuk pupuk hingga sewa lahan.

Ia tidak hanya mengandalkan padi untuk menyambung hidup. Rojai pun menanam jagung dan cabai, lalu memelihara sapi serta domba.

Penghasilan dari aktivitas itu bisa membiayai enam anaknya yang masih sekolah dan mondok di pesantren, sekitar Rp4,5 juta per bulan.

Rojai tidak ingin anak-anaknya menjauh dari pertanian. Ia justru merancang jalan agar mereka kelak bisa menjadi sarjana di bidang pertanian dan peternakan.

Keberpihakan

Petani dan pelaku usaha perberasan di Cirebon, sudah merasakan dampak langsung dari penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) serta penguatan serapan gabah.

Ketua Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Kabupaten Cirebon Jumair mengatakan kebijakan HPP Rp6.500 per kilogram pada 2025 memberi perubahan besar bagi petani. Sebelumnya harga gabah hanya Rp4.500-Rp5.500 per kilogram.

Saat diberlakukan, banyak petani di Kabupaten Cirebon berlomba menjual gabah ke Bulog.

Namun, ditegaskannya harga tinggi tidak selalu menguntungkan, jika hasil panen turun tajam akibat serangan hama atau gangguan produksi.

“Petani lebih baik harga Rp6.500 tetapi produksi 6 sampai 7 ton per hektare, daripada harga Rp7.000 tetapi hasil panennya hanya 3 ton per hektare,” ujarnya.

Dalam rantai perberasan nasional, Jumair menilai Bulog memegang peran penting sebagai pengendali stok pangan pemerintah.

Stok beras milik swasta memang besar, namun pergerakannya sangat dinamis sehingga sulit dipantau secara pasti. Berbeda dengan Bulog yang memiliki stok riil dan bisa langsung diawasi keberadaannya.

Menurutnya, program optimalisasi serapan gabah pemerintah membuat Bulog memperluas kapasitas penyimpanan sekaligus meningkatkan aktivitas usaha pengusaha penggilingan padi.

Kebijakan ini, sangat dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha yang sebagian besar juga merupakan petani di daerahnya.

Ubah persepsi

Kenaikan harga gabah dan penyerapan hasil panen oleh Bulog, perlahan mengubah cara pandang petani di Kabupaten Kuningan terhadap padi.

Hal itu diceritakan oleh Muhammad Ishaq Juarsa, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Cilimus yang membina Desa Bojong, Kuningan.

Sebelumnya banyak petani di wilayahnya, memilih menanam ubi jalar dua kali dalam setahun dengan produktivitas mencapai 22-24 ton per hektare.

Sedangkan padi, hanya ditanam sekali dalam setahun dengan tingkat produktivitas berkisar 6,1-6,2 ton GKG per hektare.

Meski demikian, komoditas ubi jalar memiliki persoalan klasik yakni harga yang sangat fluktuatif. Ketika harga bagus, petani bisa untung besar. Sebaliknya, saat nilai jual jatuh, kerugian ikut menghantam.

Oleh karenanya, saat terjadi kenaikan harga gabah sebagian besar petani mulai melirik padi sebagai komoditas menjanjikan.

“Sekarang ada yang mulai dua kali tanam padi dan sekali ubi jalar,” kata.

Namun, sebagian petani masih bergantung kepada tengkulak karena hubungan sosial dan utang-piutang yang sudah berlangsung lama.

Di salah satu desa di Kuningan, bahkan masih ada anggapan “pamali” menjual padi langsung di sawah sehingga gabah harus dibawa pulang dan dikeringkan lebih dulu sebelum dijual.

Kini kepercayaan petani mulai tumbuh setelah merasakan harga membaik, pembayaran cepat, dan timbangan lebih adil saat menjual gabah ke Bulog.

Momentum tersebut disambut baik oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan, yang menargetkan surplus padi pada 2026 meningkat menjadi 125.000 ton, naik dibandingkan capaian sebelumnya sekitar 120.000 ton.

Kepala Diskatan Kuningan Wahyu Hidayah menyebutkan sekitar 78 persen luas baku sawah di daerah itu telah dipanen hingga akhir Maret 2026. Dari total 26.016 hektare sawah, sekitar 20.310 hektare sudah dipanen.

Kini, petani tengah sumringah menikmati tingginya harga gabah saat panen padi melimpah.

Ketua Gapoktan Bina Karya Desa Cikaso Kuningan Safarudin mengatakan petani sebenarnya mampu hidup layak, apalagi kalau menanam padi, bawang merah serta cabai. Pendapatannya sekitar Rp30-Rp40 juta per tahun.

Ia berharap pola serapan seperti yang dilakukan oleh Bulog, bisa diperluas ke komoditas pertanian lain.

“Saya bisa menyekolahkan anak hingga sarjana. Intinya panen diserap dan harga stabil,” katanya.

Tertinggi

Saat masa panen, truk pengangkut selalu hilir mudik di kompleks pergudangan Bulog, membawa hasil panen petani dari Cirebon, Majalengka serta Kuningan (Cimajakuning).

Lonjakan penyerapan itu membuat stok beras di Perum Bulog Cabang Cirebon menembus 216.800 ton, tertinggi sepanjang sejarah kantor cabang tersebut berdiri.

Kepala Perum Bulog Cabang Cirebon Imam Mahdi mengatakan perusahaannya telah menyerap gabah kering panen (GKP) sebanyak 184.600 ton per 12 Mei 2026. Padahal target penyerapan tahun ini dipatok 197.000 ton.

Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 Bulog Cirebon hanya menargetkan penyerapan 145.000 ton GKP.

Menurutnya, stok tersebut diperkirakan cukup memenuhi kebutuhan masyarakat lebih dari enam bulan, bahkan bisa mencapai satu tahun jika penyaluran berada di kisaran 3.000 ton per bulan.

Tingginya penyerapan membuat Bulog harus bergerak cepat mencari tambahan ruang penyimpanan. Pihaknya memiliki 10 kompleks pergudangan dengan kapasitas sekitar 128.700 ton.

Perusahaannya pun menyewa gudang milik pemerintah daerah dan swasta. Sampai sekarang sudah ada 35 kompleks gudang tambahan yang disiapkan, dan jumlahnya masih bertambah untuk memenuhi kebutuhan kapasitas 250.000 ton.

Di balik tingginya penyerapan tersebut, ada pola kerja yang diubah Bulog tahun ini. Penjemputan gabah dilakukan lebih mudah dengan melibatkan PPL, Babinsa, serta mitra pengadaan pangan.

Petani dapat melaporkan jadwal panen dan tonase gabah melalui sistem daring yang disiapkan Bulog, sehingga proses penjemputan lebih cepat dan terorganisasi.

Mekaniame penyerapan tahun ini dibuat lebih terbuka. Semua varietas diterima selama kualitasnya sesuai ketentuan. Artinya petani bisa menanam berbagai jenis padi.

Di sisi lain, tingginya penyerapan turut menghidupkan kembali penggilingan padi kecil di wilayah Cimajakuning. Jumlahnya naik dari 70 mitra menjadi 107 mitra tahun ini.

“Mayoritas mitra tersebut merupakan penggilingan kecil dan menengah yang kembali aktif serta militan, setelah program penyerapan gabah berjalan masif,” katanya.

Bulog Cirebon mempercepat penyaluran beras setelah harga beras medium sempat naik hingga Rp14.400 per kilogram pada awal Mei 2026, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp13.500 per kilogram.

Untuk menekan harga, Bulog menggencarkan Program Gerakan Pangan Murah (GPM) dari gudang hingga pedesaan. Beras dijual Rp11.600 per kilogram kepada masyarakat dan sekitar Rp11.200 per kilogram untuk pedagang pasar.

Pedagang pasar diberi jatah hingga empat ton dalam setiap distribusi. Kebijakan itu dilakukan agar GPM tidak dianggap bersaing dengan perdagangan di pasar tradisional. Sementara untuk distribusi keliling, Bulog menyiapkan satu truk berisi 10 ton beras pada setiap kegiatan.

Hingga kini, penyaluran beras SPHP di wilayah kerja Bulog Cirebon telah mencapai 10.900 ton. Selain itu, Bulog menyalurkan bantuan pangan sebanyak 16.300 ton pada periode Maret-April 2026.

Stok beras yang melimpah di Cirebon bahkan dikirim ke luar pulau. Sebanyak 2.000 ton beras diberangkatkan ke Dumai, Riau, melalui Pelabuhan Cirebon. Aktivitas ini sekaligus menghidupkan kembali aktivitas ekonomi pelabuhan.

Memasuki usia ke-59 tahun, Bulog menegaskan penyerapan dan penyaluran kini berjalan beriringan. Gudang terus terisi hasil panen petani, sementara distribusi diperluas agar harga tetap terkendali serta pasokan pangan masyarakat aman.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Panen melimpah, harga gabah membuncah, petani sumringah

Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026