Garut, Jawa Barat (ANTARA) - Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyiapkan tim di setiap kecamatan, yang akan memompa air ke lahan pertanian terdampak kekeringan saat musim kemarau.

"Ketika ada laporan kekeringan di satu titik, maka mereka bergerak untuk melakukan pompanisasi," kata Kepala Dispertan Kabupaten Garut Ardhy Firdian di Garut, Jabar, Jumat.

Ia menuturkan berdasarkan laporan BMKG, tahun ini musim kemarau akan lebih panjang dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026.

Potensi akan terjadinya kekeringan terhadap lahan pertanian itu, kata dia, membuat jajarannya melakukan langkah antisipasi meminimalisasi risiko dampak dari kemarau tersebut.

"Kita sudah melaksanakan gladi posko, jadi penyiapan tugas di tingkat kecamatan agar mereka selalu bersiap, dan selalu waspada terhadap perubahan gejala kondisi iklim," katanya.

Ia menyampaikan tim tersebut berjumlah dua sampai tiga orang, yang akan memompa dari sumber air yang masih tersedia untuk dialiri ke daerah pertanian yang dilanda kekeringan.

Saat ini, lanjut dia, sudah ada 95 unit mesin pompa air tersebar di seluruh kecamatan yang siap digunakan oleh tim untuk menyelamatkan lahan pertanian dari dampak kemarau.

"Kita juga sudah menyiapkan pompa-pompa air di tingkat lapangan di wilayah kecamatan, itu jumlahnya sebanyak 95 unit yang sudah kita sebarkan di tingkat UPT atau BPP (balai penyuluhan pertanian) di masing-masing wilayah," katanya.

Ia menyampaikan petani yang membutuhkan bantuan pompa air dapat memintanya ke petugas pertanian setempat.

Ia berharap pompa air untuk mengatasi kekeringan itu bisa mencegah terjadinya gagal panen maupun gagal tanam, sehingga tidak terjadi kerugian materi bagi petani.

"Itu paling tidak bisa kita selamatkan, sehingga mereka bisa panen nantinya, atau bisa dinikmati hasil produksinya," katanya.



Pewarta: Feri Purnama
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026