Cimahi (ANTARA) - Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat Prasetyawati, mengapresiasi sistem pengelolaan sampah yang diterapkan Pemerintah Kota Cimahi dalam upaya menekan volume sampah yang dikirim ke TPA Sarimukti.
Prasetyawati dalam keterangannya di Cimahi, Kamis, mengatakan produksi sampah di Kota Cimahi mencapai sekitar 230 ton per hari tersebut menerapkan sistem pemilahan berbasis hari, antara sampah organik dan anorganik dibuang di hari yang berbeda.
“Saya melihat sistem di Cimahi ini cukup baik karena melalui penguatan sistem pemilahan. Dari tingkat RW (Rukun Warga) sudah diterapkan pemilahan berbasis hari, antara sampah organik dan anorganik dibuang di hari yang berbeda. Dengan begitu, pemilahan sudah terjadi dari sumbernya,” katanya.
Dirinya menjelaskan Komisi IV meninjau langsung proses pengolahan sampah, mulai dari sampah organik yang dicacah dan dimanfaatkan sebagai pakan maggot, hingga sampah anorganik seperti plastik yang diolah menjadi biji plastik bernilai ekonomis.
"Kami melakukan monitoring ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R)," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa sejak diberlakukannya status darurat sampah, volume sampah yang dikirim ke TPA Sarimukti berhasil ditekan menjadi sekitar 110 ton per hari melalui sistem pemilahan yang diterapkan di tingkat masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Komisi IV juga menyoroti keberadaan insenarator yang hingga kini belum dimanfaatkan untuk mengelola sampah oleh Pemerintah Kota Cimahi.
Dirinya menyebut, tidak digunakannya insenarator tersebut berkaitan dengan regulasi Kementerian Lingkungan Hidup mengenai larangan pembakaran sampah serta potensi emisi berbahaya seperti dioksin.
“Kita sudah memiliki peralatannya. Tinggal bagaimana dilakukan pengujian dan penyempurnaan agar emisi yang dihasilkan aman dan tidak membahayakan,” ujarnya.
Komisi IV DPRD Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk terus mengawal peningkatan kapasitas pengolahan sampah di daerah, termasuk penguatan teknologi, pelatihan pengelolaan TPS3R, serta sosialisasi kepada masyarakat sebagai upaya menjawab tantangan darurat sampah di Jawa Barat.
