Cirebon (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Jawa Barat, menggandeng seniman difabel untuk mengangkat potensi karya kreatif di daerah tersebut melalui kolaborasi dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan komunitas perupa.
Kepala Disbudpar Kota Cirebon Agus Sukmanjaya di Cirebon, Senin, mengatakan pelibatan seniman difabel menjadi bagian dari upaya membuka ruang yang lebih luas bagi potensi masyarakat yang selama ini belum banyak terekspos.
Ia menyebutkan pemerintah daerah sudah memfasilitasi adanya pameran lukisan dari seniman difabel di salah satu toko buku di Kota Cirebon, yang diselenggarakan pada 9-28 Februari 2026.
“Hari ini potensi ini tersebut tergali melalui PGRI. Ternyata banyak sekali karya dan di belakangnya ada prestasi, prosesnya juga sudah cukup panjang,” katanya.
Ia menyebutkan demonstrasi karya dan penampilan seni tersebut sudah menunjukkan kemampuan para kreator difabel, khususnya seni rupa.
Menurut dia, karya yang ditampilkan membuktikan bahwa seniman difabel memiliki bakat kuat yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai dan berdaya saing.
Agus menilai potensi dari lingkungan pendidikan, termasuk sekolah luar biasa, perlu mendapatkan perhatian melalui pola pembinaan dan pendampingan yang tepat.
“Bibitnya sudah ada, tinggal nanti treatment-nya seperti apa, sehingga mereka punya masa depan dari keahlian yang mereka miliki,” ujarnya.
Disbudpar berencana merumuskan langkah strategis bersama PGRI, sekolah, dan komunitas perupa, untuk memperluas ruang tampil serta apresiasi bagi seniman difabel di Kota Cirebon.
Ia mengatakan kolaborasi tersebut akan dibahas lebih lanjut untuk menentukan formula program, termasuk kemungkinan memasukkan karya mereka dalam agenda resmi pemerintah daerah.
“Nanti kita akan duduk bareng setelah ini dengan PGRI dan teman-teman perupa. Kita cari formulasinya untuk mengeksplorasi potensi ini,” katanya.
Agus menuturkan terdapat berbagai momentum kegiatan budaya dan pameran, yang bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan karya seniman difabel kepada publik yang lebih luas.
Saat ini, kata dia, pemetaan potensi masih dalam tahap awal, sehingga diperlukan waktu untuk menyusun strategi bersama para pemangku kepentingan.
Ia menambahkan pengembangan tidak hanya menyasar kalangan guru, tetapi juga komunitas seni dan pihak terkait agar ekosistem kreatif inklusif dapat terbentuk.
“Kita siap mengatur strategi bersama supaya karyanya bisa lebih banyak diminati dan dikenal oleh lebih banyak orang,” ucap dia.
