Cirebon (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Jawa Barat, mulai menerapkan konsep living heritage berbasis budaya untuk diterapkan dalam peta jalan strategis pengembangan pariwisata periode 2026-2029.
Kepala Disbudpar Kota Cirebon Agus Sukmanjaya di Cirebon, Senin, mengatakan hal tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Wali Kota Cirebon agar pengembangan pariwisata harus berorientasi pada penguatan nilai budaya yang hidup di masyarakat.
Menurut dia, konsep living heritage diterapkan untuk menjaga warisan budaya dengan mengemas secara profesional agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi menghidupkan kembali roh living heritage di kawasan keraton agar menjadi pusat budaya dan sejarah yang mendunia,” katanya.
Ia menjelaskan, kawasan wisata keraton meliputi Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan, menjadi prioritas utama karena merepresentasikan identitas sejarah dan kebudayaan Cirebon.
Selain itu, Disbudpar juga menetapkan kawasan wisata bahari Kejawanan serta revitalisasi kawasan Kota Lama sebagai bagian dari destinasi unggulan yang akan dikembangkan secara terpadu.
Agus menyebutkan setiap kawasan wisata akan dilengkapi penanda visual atau landmark serta fasilitas publik ikonik, yang mengutamakan kenyamanan pengunjung tanpa menghilangkan nilai historis yang ada.
“Pengembangan pariwisata tersebut diarahkan berbasis kewilayahan, agar berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat di setiap kecamatan,” katanya.
Agus mencontohkan di Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon fokus pengembangan dilakukan melalui penataan kawasan perdagangan dan revitalisasi Kali Sukalila sebagai ruang publik berbasis wisata.
