“Waktu itu saya merasa aman karena yakin setiap tagihan pasti bisa dibayar. Saya juga sadar ada bunga yang harus ditanggung kalau cicilannya melebihi promo yang diberikan,” ujarnya.
Syuwaikar menuturkan, penggunaan paylater yang ia lakukan sebelumnya bersifat terbatas dan berdasarkan kebutuhan. Selama menggunakan paylater ia selalu disiplin dalam memenuhi kewajiban pembayaran. Ia memastikan cicilan dibayar tepat waktu sehingga tidak pernah terkena denda keterlambatan.
“Saya beli handphone Rp700 ribu untuk keperluan mukholafah di pondok, dicicil Rp60 ribu per bulan selama satu tahun,” ujar Elsyu sapaan akrabnya.
Meski demikian, Elsyu akhirnya memutuskan berhenti menggunakan layanan paylater. Keputusan itu diambil bukan karena masalah gagal bayar, melainkan karena ia merasa tidak nyaman memiliki utang yang mengikat.
“Saya berhenti karena tidak ingin terikat dengan utang apa pun, baik itu untuk barang maupun waktu,” katanya.
Risiko berutang tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga kesehatan mental. Tekanan penagihan, rasa cemas, hingga konflik personal kerap muncul akibat utang yang tidak terkelola dengan baik. Apalagi jika berurusan dengan pinjaman online ilegal, yang berpotensi menyebarkan data pribadi dan melakukan penagihan secara tidak etis.
Karena itu, kesiapan mental juga menjadi bagian penting sebelum berutang.
“Kalau tidak siap menghadapi konsekuensi seperti didatangi penagih utang atau tekanan psikologis, sebaiknya jangan berutang,” tegasnya.
Menurutnya, utang bukanlah jalan terakhir untuk menyelesaikan masalah keuangan. Tanpa perencanaan yang matang, kemudahan paylater justru bisa berubah menjadi jebakan finansial. Karena itu, literasi keuangan, kedisiplinan, dan kesiapan dana darurat menjadi fondasi utama agar penggunaan paylater tetap sehat dan terkendali.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Agar tak terjebak utang, ini cara sehat menggunakan Paylater
