Bandung (ANTARA) - Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB Aurik Gustomo akan memanfaatkan posisinya dalam jajaran elit AACSB Asia Pacific Advisory Council (APAC), untuk menyuarakan isu negara berkembang dalam pendidikan bisnis Asia Pasifik.
Hal itu, kata Aurik, akan disuarakan karena kepentingan negara berkembang kerap luput dalam standar kurikulum global, khususnya terkait capacity building dan kesenjangan riset.
"Dengan adanya keterlibatan ini, SBM dipercaya untuk memberikan perspektif strategis kepada AACSB mengenai isu-isu pendidikan bisnis di kawasan, termasuk bagaimana sekolah bisnis dapat semakin relevan dan berdampak," kata Aurik dalam keterangan di Bandung, Kamis.
Fokus utama yang dibawa SBM ITB ke meja perundingan APAC, kata Aurik, mencakup transformasi pendidikan interdisiplin, yakni sebuah praktik yang telah diterapkan SBM ITB melalui kolaborasi lintas fakultas seperti dengan Sekolah Farmasi serta Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB.
Aurik sendiri, dipercaya masuk jajaran elit di AACSB APAC, secara resmi setelah ditunjuk dalam konferensi tahunan AACSB di Hong Kong pada 17-19 November 2025, yang menurutnya dapat menempatkan Indonesia duduk setara dengan raksasa pendidikan bisnis Asia lainnya dalam menentukan kiblat standar manajemen internasional.
Langkah ini dinilainya bukan sekadar representasi simbolis, melainkan pengakuan berbasis data atas lonjakan produktivitas riset SBM ITB yang kini bersaing ketat di level dunia.
Hingga November 2025, SBM ITB mencatatkan rekor produktivitas dengan menghasilkan 53 publikasi terindeks Scopus Q1 dan 32 publikasi Scopus Q2 dari total 86 dosen. Rasio produktivitas ini menjadi salah satu yang tertinggi di antara sekolah bisnis di Indonesia.
"Ini menunjukkan bahwa kapabilitas riset dosen-dosen SBM sudah setara dengan sekolah bisnis terkemuka lainnya, dan hal inilah yang memperkuat kepercayaan AACSB kepada SBM ITB," ujar Aurik Gustomo dalam keterangan sekembalinya dari Hong Kong.
Sebagai satu-satunya wakil Indonesia di dewan tersebut, SBM ITB kini memiliki mandat untuk memberikan rekomendasi langsung kepada Dewan Direksi AACSB terkait prioritas regional.
Aurik akan bekerja berdampingan dengan pimpinan dari 10 institusi top dunia, termasuk National Taiwan University, Tongji University, Inha University (Korea Selatan), dan University of Otago (Selandia Baru).
Pengakuan ini melengkapi status akreditasi AACSB yang telah dipegang SBM ITB sejak 2021. Atau termasuk sekitar enam persen sekolah bisnis di seluruh dunia yang mampu menembus standar ketat akreditasi lembaga yang berbasis di Amerika Serikat tersebut.
Masuknya Indonesia ke dalam lingkaran dalam pengambil kebijakan AACSB ini, tambah Aurik, diharapkan mampu mempercepat integrasi Tridharma perguruan tinggi nasional ke standar global, sekaligus memastikan lulusan dalam negeri memiliki daya saing yang setara dengan talenta internasional.
