Kuningan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, memfokuskan pengembangan sektor perikanan budidaya di daerah tersebut guna meningkatkan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan Deni Rianto di Kuningan, Kamis, mengatakan potensi perikanan di wilayahnya sangat besar, baik dari sisi budidaya, penangkapan, maupun pengolahan.
Namun, ia menyebutkan sektor budidaya menjadi tumpuan utama karena memberikan kontribusi terbesar terhadap total produksi ikan daerah.
“Kabupaten Kuningan punya potensi untuk sektor perikanan, karena beberapa wilayah di Kabupaten Kuningan sudah banyak pembudidayanya,” katanya.
Berdasarkan data Diskanak, kata dia, total produksi ikan di Kabupaten Kuningan pada 2024 mencapai 28 ribu ton yang terdiri dari sektor budidaya menyumbang 27 ribu ton, perikanan tangkap 440,8 ton dan hasil pengolahan 922,9 ton.
Deni menyebutkan hingga semester I 2025, produksi ikan di daerahnya mencapai lebih dari 18 ribu ton yang terdiri atas 17 ribu ton hasil budidaya, 222,16 ton tangkapan dan 454 ton dari pengolahan.
“Angka tersebut menunjukkan produksi yang bagus meskipun belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat,” katanya.
Menurut dia, sebagian besar kegiatan budidaya dilakukan melalui keramba jaring apung di Waduk Darma, sedangkan kolam air deras banyak dijumpai di wilayah utara yang memiliki aliran sungai kuat.
Deni mengakui sektor perikanan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama pada aspek ketersediaan pakan dengan harga terjangkau.
Ia mengemukakan pakan menyerap sekitar 70 persen dari total biaya produksi perikanan, sementara bahan bakunya sebagian besar masih bergantung pada impor.
Sebagai langkah antisipasi, Diskanak Kuningan mendorong pembudidaya menggunakan pakan alternatif berbahan sisa organik rumah tangga.
Selain persoalan pakan, dia menyampaikan perubahan iklim juga memengaruhi stabilitas produksi ikan di Kuningan, karena fluktuasi suhu dan curah hujan ekstrem.
Ia mengatakan kondisi tersebut, dapat menurunkan kualitas air sehingga bisa menyebabkan kematian ikan secara mendadak.
“Namun berkat dukungan pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha dapat mempercepat peningkatan produksi ikan budidaya di Kuningan,” ucap dia.
