Dalam sesi mencicipi, kombinasi pertama adalah keju camembert yang lembut dengan teh pandan.
Camembert, yang bisa dibuat di daerah mana pun di Prancis, bentuk aslinya umumnya bundar besar.
Bagian luarnya berwarna putih, teksturnya sedikit keras. Aromanya seperti jamur, mengingatkan kepada tempe yang masih mentah. Bagian dalamnya lembut dan sangat creamy. Ketika dimasukkan ke mulut, rasa asin pun menyeruak.
Teh pandan yang manis menetralisasi rasa asin camembert. Ini termasuk keju yang lembut dan cocok untuk siapa saja.
Kombinasi kedua: keju brie dan mocktail nanas. Brie mirip camembert, teksturnya lembut tapi lebih kering.
Saat dipotong dengan garpu, teksturnya lebih elastis. Aromanya lebih tajam, tapi rasanya tidak seasin camembert. Semakin lama dikunyah, ada sisa aroma jamur di dalam mulut. Rasanya cocok dengan mocktail nanas yang menyegarkan.
Kombinasi ketiga, keju comte berusia 10 bulan dan minuman kunyit. Comte punya tekstur kering dan halus. Ketika diendus, aromanya menusuk rongga hidung.
Saat dikunyah, tak cuma asin yang menyeruak, tetapi juga sedikit rasa pahit. Ketika minum kunyit, sejenak rasa rempah mendominasi, tetapi tak lama rasa comte kembali lagi ke lidah.
Keempat, mimolette dan minuman rasa cengkeh dan jahe. Mimolette terlihat mencolok karena warnanya cenderung oranye.
Teksturnya bervariasi, tergantung dari usianya. Ada mimolette yang lembut, ada juga yang padat dan rapuh.
Aroma fermentasi dominan saat diendus. Saat dikombinasikan dengan minuman cengkeh dan jahe, rasanya dideskripsikan François bagaikan sedang berperang di dalam mulut. Meski sama-sama kuat, rasa cengkeh dan jahe rupanya enak juga ketika bersatu dengan asinnya comte.
Kombinasi terakhir, keju biru (blue cheese) dan minuman stroberi. Kombinasi ini sengaja di urutan terakhir karena François mengajak orang-orang untuk bertualang dari rasa yang "aman" menuju rasa yang menantang.
