Garut (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat, mendukung metode Geothermal Dry sebagai inovasi memanfaatkan panas bumi di kawasan Kamojang untuk mempercepat pengeringan buah kopi yang hasilnya memberikan keuntungan bagi petani karena bisa memangkas biaya produksi dan waktu.
"Dengan adanya Geothermal Dry ini pertama itu bisa membantu mempercepat proses pengeringan biji kopi," kata Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan pada Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian di Garut, Jumat.
Ia menuturkan pembangunan Geothermal Dry yang dikembangkan oleh PT Pertamina Geothermal Energy Kamojang itu memanfaatkan panas bumi yang suhunya bisa diatur untuk memberikan kemudahan dalam proses pengeringan buah kopi.
Sebagian kelompok tani kopi di Garut, kata dia, sudah ada yang memanfaatkan pengeringan buah kopi di tempat Geothermal Dry di Kamojang dengan kualitas tidak jauh berbeda dengan proses penjemuran melalui sinar matahari.
Ia menjelaskan pengeringan di bawah terik matahari dibandingkan dengan cara pengeringan melalui proses geothermal tersebut memiliki perbedaan lebih cepat dari segi waktu sehingga mempengaruhi beban biaya produksi lebih ringan.
"Dengan cara geothermal ini menurunkan biaya produksi, dan lebih cepat karena bisa digunakan sepanjang waktu, tidak kenal cuaca hujan," katanya.
Ia mengatakan proses pengeringan buah kopi dengan cara dijemur bisa menghabiskan waktu paling cepat saat kondisi cuaca cerah sekitar satu sampai dua pekan, apabila cuacanya mendung atau hujan bisa lebih lama lagi, sebaliknya dengan memanfaatkan panas bumi bisa empat hari.
Keuntungan lain bagi petani kopi, lanjut dia, bisa lebih cepat dalam penyediaan barang ketika ada permintaan pasar dengan jumlah yang besar, dan juga bisa menjaga kualitas kopi karena langsung dilakukan proses pengeringan, tidak dibiarkan lama yang bisa menyebabkan jamur.
