“Kami telah memulai langkah konkret dengan menghadirkan layanan Tokocrypto Prestige, sebuah layanan premium untuk mendukung kebutuhan investor institusional dan high-net-worth individuals. Langkah ini diharapkan bisa memperkuat kontribusi Indonesia di level global,” jelas Calvin.
Kedua, Ia menekankan perlunya sinergi regulator, industri, dan masyarakat untuk mempercepat transformasi ekosistem kripto.
“Jika regulasi bisa lebih pro-pertumbuhan, hadirnya ETF lokal dan produk institusional akan mempercepat transformasi. Di saat yang sama, literasi masyarakat tentang stablecoin untuk remitansi, pembayaran lintas negara, hingga pemanfaatan Web3 akan membuka peluang baru. Inilah kunci agar Indonesia kembali ke lima besar dunia, bahkan lebih tinggi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Calvin menilai meski peringkatnya menurun, posisi Indonesia tetap strategis di mata global.
Potensi integrasi kripto dengan ekosistem Web3, dukungan perbankan digital, serta penetrasi teknologi finansial yang luas membuat Indonesia tetap diperhitungkan sebagai pasar utama.
Calvin menegaskan, peningkatan literasi keuangan digital menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya melihat kripto sebagai instrumen perdagangan semata, melainkan juga sebagai sarana inovasi dan pengembangan ekonomi digital.
“Kita harus optimistis. Penurunan peringkat ini bukan akhir, melainkan awal dari babak baru untuk mendorong ekosistem kripto yang lebih matang, inklusif, dan berdaya saing global,” tutupnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: RI kini peringkat 7 adopsi kripto dunia, digeser AS dan Vietnam
