Cirebon, 23/7 (ANTARA) - Cara berkeluarga berencana (KB) lewat suntik masih menjadi pilihan utama para peserta KB di Kota Cirebon, Jawa Barat (Jabar), dibanding alat-alat kontrasepsi yang lain.
"KB suntik masih menempati urutan pertama disusul IUD (spiral)," kata Kasi Penerangan dan Motivasi Keluarga Berencana Kota Cirebon, Suyanto Hasan, Jumat.
Hingga Desember 2009, jumlah peserta KB Kota Cirebon yang menggunakan suntik mencapai 18.936 orang, disusul IUD 5.340 orang, MOP (164), MOW (2.405) Implan (1.627), Pil (4.020) dan Kondom (565).
Jumlah para pengguna masing-masing alat kontrasepsi itu cenderung meningkat. Hingga Juni 2010, mereka yang memakai suntik tercatat 19.637 orang sedangkan IUD 5.651 orang, MOP (151), MOW (2.588), Implan (1.753), Pil (4.040) dan Kondom 664 orang.
Menurut Suyanto, apa pun alat kontrasepsi yang dipakai, masing-masing punya kelebihan. "Yang penting KB tetap berjalan dengan baik," katanya.
Dari total jumlah peserta KB yang ada di Kota Cirebon, sekitar 48,48 persen atau 16.685 orang di antaranya merupakan KB Mandiri sedangkan 17.829 orang lainnya ber-KB lewat jalur pemerintah.
Ia mengatakan, para petugas KB setempat melakukan Bina Keluarga Balita (BKB) bagi keluarga miskin dengan membantu pembinaan anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) para orang tua kurang mampu ini.
Menurut Kabid KB/Kes Kota Cirebon, Deni Hernadi, kini terdapat 18 BKB dimana setiap kelompok mengasuh sekitar 40 orang.
"Anak-anak usia TK tersebut dibina secara berkelompok. Kemudian saat masuk SD, anak-anak dari keluarga kurang mampu ini mau bersekolah," katanya.
Berkat keberadaan BKB ini, hampir semua anak mau bersekolah, katanya.
Program KB yang telah dilaksanakan pemerintah sejak 1970-an ini turut memberi sumbangan pada pengendalian laju pertumbuhan penduduk dan peningkatan mutu sumberdaya manusia Indonesia.
Badan Pusat Statistik memperkirakan, jumlah penduduk Indonesia pada 2010 mencapai 234,2 juta atau naik dibanding jumlah penduduk 2000 yang mencapai 205,1 juta jiwa.
***3***
Yasad A
