Bandung (ANTARA) - Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Ono Surono mendukung rencana penataan halaman Gedung Sate yang dinilainya bukan sekadar beautifikasi, melainkan upaya mengembalikan identitas Jawa Barat melalui simbolisasi penyatuan antara pemimpin dengan rakyatnya.

Ono menilai bahwa konsep yang ditawarkan pemerintah provinsi adalah mengembalikan fungsi historis kantor gubernur yang seharusnya menyatu dengan lapangan atau alun-alun, selaras dengan filosofi tata kota tradisional Sunda.

"Tadi disampaikan oleh gubernur itu kan mengembalikan fungsi Gedung Sate yang sebenarnya yang merupakan identitas Jawa Barat, identitas kesundaan. Di mana biasanya kantor gubernur harus menyatu dengan lapangan. Harus menyatu dengan alun-alun," ujar Ono saat ditemui usai Musrenbang di Gedung Pakuan Bandung, Rabu.

Menurut Ono, keterbukaan akses antara kantor pemerintahan dan area publik memiliki makna filosofis yang dalam bagi demokrasi di Jawa Barat. Ia melihat hal tersebut sebagai langkah untuk meruntuhkan sekat antara birokrasi dan masyarakat.

"Simbolisasinya itu kan kantor gubernur dan lapangan itu menjadi sarana bertemunya antara rakyat dengan para pemimpinnya. Nah, sehingga terkait dengan anggaran ya, tentunya ini menjadi kajian lah ya kita semua," katanya menambahkan.

Mengenai aspek pembiayaan, Ono memastikan bahwa legislatif akan melakukan kajian mendalam terkait urgensi proyek tersebut.

Namun, ia memberikan sinyal positif bahwa anggaran penataan ini tidak akan mengganggu pos anggaran krusial lainnya.

"Saya yakin kalaupun kita setuju terkait dengan hal itu tidak akan membebani anggaran-anggaran lainnya yang bersentuhan dengan masyarakat," tutur Ono.

Langkah memoles wajah gedung bersejarah peninggalan kolonial ini diketahui merupakan ambisi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang ingin memindahkan lokasi upacara kenegaraan dari Gasibu ke halaman depan Gedung Sate demi menjaga "aura" kewibawaan pusat pemerintahan.

"Ke depan saya punya rencana, dan berharap ke depan itu upacara kemerdekaan pengen di sini (depan Gedung Sate)," ujar Dedi Mulyadi beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pantauan di lapangan, taman hijau yang selama ini menghiasi wajah Gedung Sate mulai digunduli, ubin-ubin dan batu alam plaza dibongkar, dan tanaman dicabuti untuk memberikan ruang bagi lapangan upacara yang baru.

Merujuk data dari Biro Umum Setda Provinsi Jawa Barat, Proyek yang dijadwalkan berlangsung dari 8 April hingga 6 Agustus 2026 ini juga mencakup penataan pedestrian dan elemen ruang terbuka publik yang merepresentasikan identitas budaya Jawa Barat.

Revitalisasi ini, akan mengintegrasikan kawasan dengan menghubungkan Plaza depan Gedung Sate, koridor Jalan Diponegoro, hingga Lapangan Gasibu sebagai satu sumbu utama seluas 14.642 meter persegi.

Dengan anggaran senilai Rp15 miliar (berdasar laman Inaproc) yang telah ditenderkan pada Maret 2026 di tengah upaya efisiensi anggaran daerah, revitalisasi ini ingin menegaskan peran Gedung Sate sebagai center point Jawa Barat yang selama ini dianggap tertutup oleh bangunan tinggi di sekitar Gasibu.

Setelah kepastian prasasti Sapta Taruna yang menjadi simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum (PU) tidak akan dipindahkan dari tempatnya, revitalisasi ini masih menyisakan tanya dan misteri karena hasil revitalisasi akan berdampak dialihkannya Jalan Diponegoro depan Gedung Sate ke tengah Lapangan Gasibu.

Sehingga kelanjutan nasib fasilitas jogging track, toilet, taman dan perpustakaan di Lapangan Gasibu yang jadi area terbuka masyarakat Bandung setiap hari, masih tanda tanya apakah akan tetap ada atau malah ditiadakan akibat revitalisasi.



Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026