Bandung (ANTARA) - Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memastikan rumah tidak layak huni (RTLH) di Desa Cimekar, Cileunyi, masuk dalam progres pelaksanaan perbaikan pada 2026.
Kepala Disperkimtan Kabupaten Bandung Enjang Wahyudin di Bandung, Jumat, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan verifikasi faktual di lapangan guna memastikan kesiapan penerima bantuan sebelum dilakukan intervensi pembangunan.
“Tahun ini sudah masuk ke dalam program pelaksanaan. Fokus kami sekarang verifikasi yang bukan sekadar pendataan, tapi memastikan langsung ke pemilik, mulai dari kesiapan, status kepemilikan, sampai identitas. Kalau sudah aman, baru kita masuk tahap perbaikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa proses yang dilakukan saat ini bukan lagi pendataan awal, melainkan tahap pemastian agar bantuan tepat sasaran, termasuk penguatan administrasi kepemilikan lahan melalui pemerintah desa.
“Kalau tidak punya surat tanah, kita minta penguatan dari desa bahwa itu memang milik pribadi. Karena program ini sifatnya stimulan, jadi harus ada swadaya dari masyarakat,” katanya.
Terkait pengakuan warga yang menyebut rumah tersebut sudah terdata sejak 2013 dan belum mendapat tindak lanjut, pihaknya menyebut hal itu kemungkinan terjadi pada periode sebelumnya.
“Kalau sebelumnya mungkin hanya didata, sekarang kita pastikan dilaksanakan. Jadi sekarang bukan mendata lagi, tapi meyakinkan kesiapan untuk dibangun,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, dirinya juga mengatakan bahwa Disperkimtan menargetkan sebanyak 850 unit RTLH diperbaiki pada 2026 yang dibagi dalam dua tahap dengan tahap awal dengan sekitar 477 unit mulai disiapkan untuk pelaksanaan pada Juli 2026.
Sementara itu, rumah yang sempat viral di media sosial tersebut diketahui telah lama dihuni banyak anggota keluarga dengan kondisi bangunan sederhana dan rawan saat hujan serta angin kencang.
Salah satu keluarga pemilik rumah tersebut, Saparudin (43), dipastikan akan segera dibongkar pada Minggu sebagai tahap awal penanganan dan akan dilanjutkan dengan proses pembangunan yang direncanakan mulai berjalan pada Senin.
“Kebetulan dari kemarin sudah aman. Mungkin mulai Minggu pembongkaran, terus Senin berjalan pembangunan,” ujarnya.
Selama ini, Saparudin bersama 12 anggota keluarganya dari tiga kepala keluarga tinggal di rumah dengan kondisi yang sudah memprihatinkan dan rawan roboh, terutama saat hujan dan angin kencang.
“Alhamdulillah sudah dipastikan bantuan karena di dalam itu sudah keropos semua, jadi takut kalau untuk tempat tinggal. Kalau kena hujan atau angin malam jadi kurang tenang,” katanya.
Pewarta: Ilham NugrahaEditor : Akbar Nugroho Gumay
COPYRIGHT © ANTARA 2026