Bandung (ANTARA) - Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan Bandung  Acuviarta Kartabi mengingatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat soal potensi lonjakan inflasi bahkan hingga satu persen pada Maret 2026 dan bertahan hingga selepas Lebaran 2026.

"Jika lengah, kenaikan inflasi bisa sampai 1 persen di bulan Maret. Situasi ini bisa bertahan sampai satu bulan selepas Hari Raya Idul Fitri," kata dia di Bandung, Rabu.

Ia menilai inflasi pada Maret 2026 dipicu oleh tren kenaikan harga komoditas pangan, terutama beras.

Jika tekanan harga tidak segera ditanggulangi, katanya, situasi ini berisiko bertahan hingga satu bulan selepas Idul Fitri karena adanya akumulasi faktor global dan kendala distribusi internal.

Menurutnya, indikator utama kegagalan atau keberhasilan pengendalian inflasi di Jawa Barat terletak pada stabilitas harga beras.

Ia menyoroti harga beras yang konsisten naik meski di tengah klaim swasembada, terutama untuk kelas medium. Berdasarkan data pada 26 Februari 2026, beras premium di Jabar sebesar Rp14.480 per kg dan beras medium di Jabar senilai Rp13.084 per kg.

Selain beras, katanya, komoditas seperti cabai rawit yang mengalami gagal panen, daging ayam ras, bawang merah, hingga harga emas akibat faktor global, menjadi penyumbang utama inflasi sejak Februari 2026 lalu.

Ia menyebut persoalan semakin kompleks akibat tren kenaikan harga BBM non-subsidi.

"Bagi saya, indikator utama kenaikan inflasi ada pada harga beras. Kenaikan harga beras cenderung berlangsung jangka panjang," ujarnya.

Acuviarta mengaku khawatir dengan potensi inflasi tak terkendali ini, mengingat kondisi tekanan harga sudah muncul sejak awal Ramadhan.

Kondisi tersebut dinilai berbahaya bagi perekonomian Jabar, terlebih di tengah meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan belum pulihnya sejumlah sektor ekonomi.

Terkait komoditas pangan, ia menduga adanya kesalahan antisipasi pada pasokan bawang merah serta distribusi cabai rawit yang tidak merata akibat spekulasi pasar dan faktor cuaca. Pemerintah pun didesak untuk segera melakukan langkah konkret jangka pendek.

"Pemerintah harus segera bertindak menstabilkan harga beras dulu. Kemudian pada daging ayam ras, juga pemetaan terkait kawasan produksi cabai rawit," katanya.

Inflasi Jawa Barat pada Fe­b­ruari 2026 mencapai 4,71 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi Januari 2026 sebesar 3,24 persen dan secara tahunan (year on year/yoy) pada Februari 2025 yang justru deflasi 0,27 persen.

Tingginya inflasi yoy pada Februari 2026 disebabkan oleh pengaruh low base effect dari diskon tarif listrik yang terjadi pada tahun sebelumnya, di mana pada Fe­b­ruari 2025 diskon tarif listrik ber­laku bagi pelanggan pra-bayar maupun pelanggan pas­ca-bayar.

"Namun jika pengaruh lis­trik ini dikeluarkan dari perhitungan, inflasi year on year Februari 2026 hanya 2,65 persen," kata Kepala BPS Provinsi Ja­wa Barat Margaretha Ari Ang­gorowati dalam keterangan.

Secara bulanan, Jawa Ba­rat mengalami inflasi sebesar 0,81 persen. Februari merupakan situasi dimulainya Rama­dhan, sehingga mendorong kenaikan harga beberapa komoditas bahan pokok di pa­sar konsumen, padahal bulan sebelumnya masih deflasi.

Salah satunya cabai rawit yang mengalami lonjakan harga. Harga emas dunia juga masih menunjuk­kan tren kenaikan secara rata-rata.

Namun, kata Ari, inflasi se­dikit tertahan dengan turunnya harga bahan bakar mi­nyak non-subsidi yang berlaku sejak 1 Februari 2026.

"Ber­dasarkan komoditas penyumbang inflasi, emas perhiasan memberikan andil inflasi ter­tinggi pada Februari 2026 se­besar 0,21 persen. Selain itu cabai rawit, daging ayam ras, beras dan bawang merah juga menjadi penyumbang inflasi ter­tinggi," katanya.

Memasuki dua pekan pertama Ramadhan, angka inflasi naik 0,81 persen, padahal bulan ke­marin masih deflasi.



Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026