Bandung (ANTARA) - Akademisi Departemen Arsitektur Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Beta Paramita mendorong upaya kolaborasi lintas sektor dalam upaya menghadapi perubahan iklim.

Ia menegaskan strategi mitigasi dan adaptasi harus dijalankan secara bersamaan serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

“Mitigasi perubahan iklim harus dilakukan sebelum kejadian, sementara adaptasi setelah kejadian. Namun, kondisi saat ini mengharuskan keduanya harus berjalan beriringan dan melibatkan semua pihak,” ujarnya dalam keterangan diterima di Bandung, Rabu.

Ia menjelaskan perubahan iklim kini bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas yang telah terjadi, sebagaimana tercermin dari banjir melanda sejumlah wilayah, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Ia juga menekankan bahwa persoalan perubahan iklim dapat diatasi melalui pendekatan yang sederhana dan kontekstual dengan kebutuhan masyarakat.

“Permasalahan besar tidak selalu diselesaikan dengan solusi yang rumit. Banyak praktik sederhana yang sudah ada sejak lama, seperti pengelolaan sampah dan pemanenan air hujan,” ujarnya.

Ia menyoroti dampak perubahan iklim paling dirasakan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi pendingin ruangan maupun material bangunan berkualitas dengan harga terjangkau.

“Perubahan iklim adalah persoalan global yang dampaknya paling dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah yang tidak memiliki akses AC atau material bangunan berkualitas dengan harga terjangkau. Di sinilah peran riset dan inovasi menjadi sangat penting,” ujar Beta.



Pewarta: Ilham Nugraha
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026