Ia menyebutkan penurunan tersebut sebagian besar disebabkan oleh tiga hal yaitu tekanan akibat perburuan liar untuk diambil daging dan tanduknya, hilangnya habitat karena degradasi hutan, serta akibat bencana alam dengan total populasi banteng global saat ini diperkirakan sekitar 3.300 ekor.
Upaya mengantisipasi hal tersebut, kata dia, BBKSDA Jabar melakukan intervensi pengurangan status keterancaman spesies pada area hilir dengan cara peningkatan populasi melalui reintroduksi banteng jawa di Cagar Alam Pananjung Pangandaran yang merupakan tempat representatif bagi perkembangbiakan Banteng Jawa.
Populasi banteng di Cagar Alam Pananjung, kata dia, awalnya merupakan program reintroduksi yang diinisiasi oleh Y. Eycken pada 1922 sebanyak empat ekor untuk dijadikan taman buru, selanjutnya 1934 dilakukan introduksi banteng dengan jumlah 60-80 ekor sehingga sampai tahun 1979 populasinya mencapai 90 ekor.
Namun karena terjadinya bencana alam letusan Gunung Galunggung pada 1982, kata Achmad, menjadikan populasi banteng menurun drastis hingga sampai 2003 banteng yang tersisa hanya satu ekor jantan lalu Desember 2024 dilakukan pelepasliaran banteng jawa oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesa sebanyak empat ekor yakni dua jantan, dan dua betina dewasa di Pangandaran.
Ia menyebutkan indukan banteng jawa itu diambil dari populasi terpisah di tiga lembaga konservasi yakni dari Taman Safari Indonesia Bogor sebanyak satu individu betina bernama Uchi, Taman Safari Indonesia Prigen sebanyak satu individu betina bernama Bindi, dan Taman Safari Indonesia Gianyar Bali sebanyak dua individu jantan bernama Bejo dan Senta.
Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran yang berada di kawasan seluas kurang lebih 5 hektare itu, kata dia, dipantau oleh sembilan petugas di lapangan yang menjaga dan memelihara satwa, mulai dari pemberian pakan, pemberian nutrisi tambahan, pengecekan kesehatan satwa, pengecekan masa birahi, pemeliharaan kondisi kandang, serta pemeliharaan kondisi padang gembala dan pagar.
Pada perkembangannya sampai akhir 2025, kata dia, telah meningkatkan populasi di Cagar Alam Pangandaran melalui kelahiran dua anakan pada Minggu, 27 Juli 2025 dari induk Uchi dengan nama Eksploitasia serta pada Kamis, 7 Agustus 2025 dari indukan Bindi dengan nama Haruni.
Baca juga: BBKSDA Jabar: Kelahiran Banteng Jawa di Pangandaran harapan pelestarian satwa langka
Baca juga: Menhut pastikan ada pengawasan proses reintroduksi banteng jawa di Pangandaran
