Bandung (ANTARA) - Uap panas yang keluar dari Kawah Kereta Api di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kawah Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terlihat kontras dengan suhu dingin yang menyelimuti kawasan tersebut.
Kawah yang sayup-sayup mengeluarkan suara bak cerobong kereta api tersebut adalah titik sumur uap panas bumi tertua yang dieksplorasi di Indonesia. Usianya sudah hampir satu abad, sejak area ini pertama kali dieksplorasi oleh Belanda pada tahun 1926.
Eksplorasi pun dilanjutkan oleh Pertamina pada 1974, dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang pertama resmi beroperasi komersial pada 1983.
Kini, pengelolaan WKP Kamojang dilakukan oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), dengan lima unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang memiliki total kapasitas mencapai 235 megawatt (MW) dari total 727 MW kapasitas terpasang yang dikelola PGE.
Dengan kapasitas tersebut, PLTP Kamojang mampu memasok listrik untuk lebih dari 260 ribu rumah tangga setiap hari selama setahun penuh tanpa bergantung pada sinar matahari, cuaca, atau bahan bakar fosil.
Hingga September 2025, produksi listrik dari Kamojang mencapai 1.326 gigawatt hour (GWh), tertinggi di antara seluruh WKP PGE.

Operasi bersih ini juga berkontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO2 per tahun, sejalan dengan upaya Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060.
Pjs GM PGE Area Kamojang Hendrik Sinaga mengatakan sumur uap panas bumi tersebut merupakan bukti bahwa geothermal merupakan energi hijau dengan tingkat keberkelanjutan yang tinggi.
Kontinuitas itu dijaga melalui adaptasi penerapan teknologi terbaru, kerja sama dengan para pemangku kepentingan strategis termasuk perguruan tinggi, hingga tata kelola yang relevan dengan pergantian zaman.
“Secara sustainability, ESG, kita bicara tiga hal: environmental (lingkungan), social (sosial), dan governance (tata kelola). Nah, sekarang kita di levelnya itu menjaga dan terbuka dengan perkembangan di Kamojang,” ujar Hendrik.
Menurut dia, selama 100 tahun memang benar-benar tidak sekedar hari ini menjaganya, tapi juga menjaga dari hal-hal kecil, mengikuti SOP-nya, beradaptasi dengan teknologi dan risikonya.
PGE kini tengah memperluas kapasitas terpasangnya dengan target mencapai 1 GW dalam 2–3 tahun ke depan, dan 1,8 GW pada tahun 2033.
Dalam jangka panjang, PGE menargetkan kapasitas total sebesar 3 GW yang telah teridentifikasi dari 10 WKP yang dikelolanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, PGE tengah memprioritaskan sejumlah proyek quick win, termasuk pemanfaatan uap dari sumur-sumur bertekanan rendah di Kamojang dengan kapasitas sebesar 5 MW yang ditargetkan mulai beroperasi tahun 2028.
Geothermal dan dampak sosial
Tak hanya menjadi sumber energi yang berusia panjang dan andal, panas bumi juga memantik semangat kehidupan dan ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
PGE Area Kamojang memanfaatkan energi geothermal ini untuk berbagai inovasi yang digerakkan oleh warga secara terintegrasi dan terukur.
Salah satunya adalah bentuk pemanfaatan panas bumi secara langsung melalui inovasi Geothermal Dry House pertama di dunia.
Di sini, petani memanfaatkan uap panas bumi dari PLTP Kamojang untuk mempercepat proses pengeringan kopi dari yang sebelumnya memakan waktu 30–45 hari, kini hanya membutuhkan 3–10 hari.
Saat ini, PGE bermitra dengan 18 kelompok tani dan memberdayakan 312 petani kopi lokal dengan luas lahan mencapai 80 hektare yang terletak di sekitar WKP PGE Kamojang melalui program Geothermal Coffee Process’(GCP).
Sepanjang 2024, total penjualan mencapai 4,9 ton green beans, 640 kilogram roasted beans, dan 17.500 bungkus ground coffee, menghasilkan omzet sebesar Rp863,9 juta.
Lebih dari itu, panen bersama ini sekaligus menandai ekspor perdana kopi panas bumi dengan total volume ekspor mencapai 15 ton ke Asia dan Eropa.
Langkah ini menjadi bentuk pengakuan internasional terhadap kualitas kopi Kamojang, sekaligus implementasi penerapan ekonomi sirkular berbasis energi bersih.
Selain itu, ada juga pemanfaatan energi panas bumi untuk kegiatan perikanan (fishery) atau budidaya ikan. Di Kamojang, peternak ikan Otang Maludin memanfaatkan energi ini sebagai penghangat suhu air bagi ikan mas dan nila, serta mengeringkan bahan pakan ikan sejak akhir tahun 2024.
Terbaru, PGE tengah menjalankan program GEMAH KARSA (Geothermal Empowerment for Maximizing Agriculture through Kamojang Responsible and Sustainable Farming), yang memberdayakan 2.647 penerima manfaat dari kelompok rentan lewat pertanian berkelanjutan berbasis energi panas bumi, penyediaan air bersih, dan produksi pupuk organik.
Dengan keberadaan dan kebermanfaatan yang sudah eksis sejak satu abad silam, PLTP Kamojang menjadi pengingat penting, bahwa Indonesia adalah negeri yang terberkati dengan sumber-sumber energi bersih.
Inovasi yang tergali lalu tumbuh dari panas bumi pertiwi, tak hanya menyalakan listrik semata, tapi juga kemandirian bagi mereka yang memanfaatkannya.
Sebagai pionir panas bumi di Indonesia, Kamojang bukan hanya simbol sejarah, tetapi bukti nyata kontribusi Indonesia dalam mewujudkan masa depan energi hijau yang ternyata sudah kita miliki sejak lampau.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Tak ada yang terbuang dari 100 tahun panas bumi Kamojang
