Bandung (ANTARA) - Mentari pagi yang cahayanya tersamarkan oleh awan menambah syahdu suasana pagi tepi Waduk Saguling ketika ANTARA berkunjung ke Desa Pangauban, Batujajar, Bandung Barat, akhir Oktober.
Tujuannya satu, yakni Kantor Desa Pangauban. Di lantai dua kantor itu, belasan orang berbaju merah marun dan beberapa orang berbaju biru langit telah berkumpul dengan penuh keceriaan dan kekeluargaan untuk menyambut tamu mereka.
Mereka adalah anggota Sahabat Jiwa dan kader dari Lentera Jiwa, yang merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Fuel Terminal (FT) Bandung, bersama Pemerintah Desa Pangauban, dengan fokus pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Seorang pria berbaju merah marun dan bertopi maju untuk bersalaman dan mengenalkan dirinya sebagai Lesmana. Secara sepintas, Lesmana terlihat seperti pria 42 tahun biasa. Tak terlihat adalah anggota Sahabat Jiwa.
Lesmana, yang asli warga Pangauban, bercerita bahwa dia mengalami masalah kejiwaan pada 2017 saat dia aktif sebagai pekerja kontrak pada satu pabrik sparepart motor di Bandung.
Pada suatu pagi, Lesmana dikagetkan oleh penglihatannya yang mendadak buram ketika bangun tidur. Ketika itu, dia masih berfikir positif dengan menganggap bahwa hal itu karena dirinya kelelahan sehingga memutuskan tidak memeriksakan kondisinya itu.
Seiring waktu, ternyata masalah di matanya tak kunjung hilang, malah penglihatannya semakin gelap. Dengan penuh rasa was-was, akhirnya dia berbicara dengan orang tuanya yang langsung memintanya untuk memeriksakan matanya.
Dokter mendiagnosanya mengalami glaukoma atau gangguan mata yang dapat merusak saraf optik dan menyebabkan hilangnya penglihatan permanen, dan kondisinya tidak tertolong karena terlambat berobat. Kondisi ini juga berpengaruh pada pekerjaannya hingga diputus kontrak oleh pihak pabrik.
Masalah penglihatan dan kehilangan pekerjaan membuat dia tertekan dan mengalami stres berlebihan, hingga akhirnya sering berbicara sendiri selayaknya orang mengigau.
Dalam keadaan kalut dan pikirannya kacau, Lesmana dan keluarganya didatangi oleh kader Lentera Jiwa bersama Desa Siaga Sehat Jiwa dan diarahkan menerima pengobatan ke RSJ Cisarua dan pendampingan hingga saat ini, sampai kondisinya stabil dengan meminum obat berdosis sehari sekali.
"Saat ini saya dosisnya sehari sekali. Kalau dua hari tidak minum suka mengigau," kata Lesmana.
Lesmana mengaku, keikutsertaannya dalam program Lentera Jiwa dan bertemu para kader serta Sahabat Jiwa lainnya membuat dia lebih baik, seakan program ini memberi energi baru baginya dalam menjalani hidup.
"Dengan saya terlibat di sini, saya jadi tahu bahwa yang punya gangguan jiwa bukan hanya saya. Alhamdulillah ini membuat saya lebih percaya diri dan seperti punya semangat hidup yang lebih besar lagi," tuturn
Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau sobat jiwa Eko (kanan) dan Lesmana (kiri) berjalan di depan mural tempat cuci motor di Desa Pangauban. (ANTARA/Abdan Syakura)
Awal Mula
Ketua Lentera Jiwa Ating Nugraha (54), mengungkapkan kondisi gangguan kejiwaan seperti itu di Desa Pangauban, bukan hanya dialami Lesmana. Bahkan adik Lesmana yang bernama Eko (37), juga mengalami gangguan kejiwaan karena tertekan mentalnya selepas sang ibu meninggal dunia.
Ating menyebut, pada satu waktu jumlah ODGJ di desa tersebut mencapai sekitar 40 orang dengan penyebab yang beragam, mulai dari berbagai tekanan seperti yang dialami Lesmana dan Eko, atau karena tekanan dalam kehidupan rumah tangga.
"Di sini dulu banyak yang jadi TKI. Nah ketika pulang suaminya telah memiliki istri kedua. Atau bagi yang pria, itu ada yang istrinya TKI ketika pulang istrinya bawa anak hingga si suami stres. Ada juga yang sakit karena sering dipukul," kata Ating.
Keadaan seperti itu menimbulkan stigma bagi Pangauban sebagai kampung gila. Pernah juga terjadi tragedi berdarah di desa itu akibat ada ODGJ yang mengamuk.
Ating menceritakan, pada 2010 satu ODGJ yang mengamuk dikeroyok massa dan dimasukkan ke sumur hingga meninggal dunia. Akibatnya beberapa warga ditahan dan keluarganya kehilangan harta benda untuk menebus anggota keluarganya.
Tragedi inilah yang jadi pemantik bagi Desa Pangauban untuk mendirikan gerakan kesiapsiagaan yang di dalamnya ada unsur kejiwaan dan lahirlah Desa Siaga Sehat Jiwa, yang merupakan cikal bakal dari Lentera Jiwa.
Desa Siaga Sehat Jiwa, awalnya dibentuk untuk membantu pasien ODGJ untuk berobat ke RSJ Cisarua dengan difasilitasi desa, serta agar kejadian meninggalnya ODGJ karena berkonflik bisa dihindarkan.
Pada 2012, program desa ini berkembang ke arah pendampingan bagi pasien dan keluarganya setelah datangnya Aan Somana, seorang psikolog sekaligus dosen yang memiliki kepedulian. Dia bertindak sebagai pembimbing para kader dan membantu dalam deteksi, penelusuran potensi ODGJ, dan pendampingan klinis.
Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan pihak rumah sakit juga, para ODGJ yang dalam pendampingan mulai stabil kondisinya. Bahkan beberapa dari mereka berkeluarga dan memiliki anak, walau mereka tetap tak bisa lepas dari obat yang harus dikonsumsi.
Keberhasilan itu menjadikan program Desa Siaga Sehat Jiwa Pangauban dan para kadernya meraih beberapa penghargaan termasuk dari kabupaten maupun provinsi sebagai pelopor gerakan masyarakat dalam aspek pendampingan ODGJ.
Jejak langkah Desa Siaga Sehat Jiwa dan para kadernya juga menarik perhatian Pertamina untuk membantu dan mengembangkan dan memberi energi baru pada program yang fokus pada layanan kesehatan bagi ODGJ dan masyarakat umum tersebut sejak tahun 2022.
Ating menceritakan, pihaknya menyambut baik ajakan dari Pertamina yang datang dengan program untuk memberikan dukungan pada langkah gerakan masyarakat tersebut. Program itu juga memberdayakan para ODGJ agar bisa mandiri dan diterima oleh masyarakat.
"Karena, selain ingin menghilangkan stigma pada desa dan mereka, saya dan para kader juga ingin agar mereka ini bermanfaat setidaknya bagi dirinya sendiri. Mereka juga manusia yang berhak dapat kesempatan, terutama diterima oleh keluarganya dan juga masyarakat," kata Ating.
Menjaga Harapan
Dengan pesan "No stigma, Sayangi Jiwa dan Peduli Sesama", keterlibatan Pertamina dalam program yang kemudian diberi nama Lentera Jiwa ini, mulai memberdayakan Sahabat Jiwa dalam menciptakan lingkungan yang inklusif, memberikan dukungan dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Diawali dengan pendeteksian kondisi, kebiasaan, dan potensi para Sahabat Jiwa oleh berbagai pihak, kini 12 dari 35 ODGJ di sana telah pulih. Mereka dan keluarganya diberi pendampingan dan penguatan kapasitas diri sesuai minat dan bakatnya lewat pelatihan.
Spv Health Safety Security and Environment (HSSE) Fuel Terminal (FT) Bandung Wanda Rahman menjelaskan para Sahabat Jiwa tersebut dilibatkan dalam kegiatan Jiwa Berdaya yang berfokus kepada pengembangan mereka di masyarakat pada berbagai UMKM binaan Pertamina di sekitar Pangauban.
Mulai dari pemberdayaan Eko pada bengkel dan cuci motor Zibrug, lalu Deni diberdayakan di peternakan Cibodas Barokah Sheep (CBS) Farm, kemudian Udin diberdayakan pada UMKM JRK yang bergerak di bidang kreasi kerajinan berbahan eceng gondok, sementara sisanya diberdayakan pada UMKM yang digerakkan sendiri oleh Lentera Jiwa.
UMKM yang digerakkan Lentera Jiwa yakni pembuatan camilan Mustopa dari bahan buah Pepaya dengan melibatkan ibu-ibu PKK. Kemudian pembuatan lilin aroma terapi yang bahan dasarnya dari minyak bekas proses pembuatan Mustopa Pepaya.
Efeknya, berbagai kegiatan Lentera Jiwa ini selain membuat Sahabat Jiwa pulih dan berdaya, ada 50 kg eceng gondok di sekitar Saguling termanfaatkan tiap bulan melalui UMKM JRK, serta ada sekitar 112 orang penerima manfaat tak langsung termasuk para UMKM yang terbantu.
Yang paling penting, adanya penerimaan keluarga dan masyarakat atas para Sahabat Jiwa yang bisa berdaya ini, dengan stigma yang kini tidak ada lagi di Pangauban.
"Hal ini kami lakukan agar ODGJ yang sudah pulih dapat diterima di masyarakat. Dan ikut terlibat dalam aktivitas sosial, sehingga stigma negatif di masyarakat kepada mereka berkurang bahkan tidak ada," kata Wanda terkait Lentera Jiwa.
Namun demikian, program ini bukanlah tanpa tantangan. Salah satu kader Lentera Jiwa, Tini Suhartini (46), menceritakan kekhawatirannya atas keberlanjutan program ini mengingat menurutnya sesuai perjanjian kerja sama dengan Pertamina akan berakhir 2026.
Sementara, dua UMKM Lentera Jiwa yang berpendapatan rata-rata Rp1 juta per bulan belum cukup untuk operasional program, sehingga harus menggunakan dana talangan dari pribadi ketua yang terkadang tidak bisa terbayarkan.
"Ini kekhawatiran kami. Tapi kami juga saat ini sedang berusaha untuk bisa mengembangkan pasar dari produk Mustopa Pepaya dan lilin aroma terapi kami, sambil mengetuk pintu berbagai pihak termasuk pemerintah daerah agar program ini berlanjut dan para Sahabat Jiwa ini bisa terbina," ucap Tini penuh harap.
Meski dengan tantangan, kehadiran program ini telah memberikan peluang bagi Sahabat Jiwa untuk membuktikan diri masih berdaya dan memberi mereka kesempatan untuk lebih dimengerti dan dimanusiakan.
Lebih jauh, bagi Pangauban program ini memberi sebuah energi baru untuk lepas dan mengubah tragedi yang pernah terjadi di masa lalu menjadi perasaan saling kasih antarsesama manusia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menjaga lentera harapan dari para jiwa yang terasingkan
