Cirebon (ANTARA) - Sehelai kain berwarna kuning gading dibentangkan perlahan. Seratnya tampak rapuh, tapi motifnya tegas dan terlukis anggun, menyimpan jejak masa lalu karena usianya mendekati seabad.
Elang Raharyadi Widjaya Kusuma menatapnya lama, menelusuri lekuk garis seperti menapak tilas jejak pendahulunya, yang terpatri di setiap guratan kain itu.
“Ini salah satu koleksi ayah saya. Usianya hampir seabad. Motifnya corak mega mendung khas keraton,” ujar pria yang akrab disapa Yadi, saat berbincang dengan ANTARA, Jumat (24/10) siang.
Kain batik usang tersebut, beserta motif yang terukir di dalamnya, dianggap sebagai warisan keluarga. Ia mencoba melestarikan tapak leluhurnya dengan mendirikan Paguyuban Godong Djati.
Ia beranjak menuju teras depan setelah menunjukkan kain lawas itu. Kemudian, Yadi melanjutkan aktivitas membatik di atas selembar kain berwarna biru laut dengan begitu apik.
Berkawan
Hawa hangat menyeruak dari tungku elektrik cilik dengan label PLN Peduli. Di dekatnya, terdapat seorang perempuan berkerudung biru sedang duduk bersimpuh.
Jemarinya begitu cekatan menggoreskan malam cair menggunakan canting bertenaga listrik, dengan bunyi yang berdengung halus.

