Cianjur (ANTARA) - Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencatat jumlah petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kabupaten Cianjur masih sangat kurang, sehingga berbagai upaya dilakukan.
Kepala DTPHPKP Kabupaten Cianjur Ahmad Danial di Cianjur Jumat, mengatakan jumlah PPL di Cianjur saat ini sekitar 124 orang dinilai tidak mencukupi untuk menjangkau 32 kecamatan guna mendampingi para petani.
"Saat ini satu orang PPL membawahi dua sampai tiga desa yang seharusnya satu desa minimal satu orang, sedangkan di Cianjur terdapat 354 desa dan enam kelurahan," katanya.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, pihaknya mengajukan penambahan jumlah PPL di Cianjur sejak beberapa tahun terakhir dengan harapan dapat tercapai di tahun 2026, sehingga minimal satu orang PPL membawahi satu desa.
Hal tersebut belum dapat berjalan secara maksimal, sehingga satu orang PPL masih membawahi sampai 3 desa binaan, terlebih di tengah kabar peralihan status ASN yang semula di bawah pemerintah daerah beralih ke Kementerian Pertanian (Kementan) mulai Januari 2026.
"Kami memaksimalkan tugas dan fungsi sekitar 124 PPL yang memiliki beban kerja sangat tinggi, dimana mereka juga bertugas mengawasi alokasi pupuk bersubsidi agar tepat sasaran," katanya.
Dia menuturkan dengan jumlah tersebut PPL turut mengawasi pendistribusian pupuk subsidi dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat sebanyak 74.658 ton sampai ke tangan petani langsung.
"Tahun 2025 Cianjur mendapatkan urea sebanyak 41.093 ton dan NPK sebanyak 33.565 ton, ini juga menjadi tugas PPL guna memastikan pendistribusian-nya tepat sasaran langsung ke petani mulai dari utara hingga selatan," katanya.
PPL juga tambah dia, menggencarkan sosialisasi ke para petani binaan ketika daya serap pupuk bersubsidi masih kurang dengan letak geografis yang cukup jauh hingga ke pelosok terutama di wilayah selatan Cianjur.
