Kartini itu tumbuh di lingkungan yang keras di Kota Surabaya, yakni di Kampung Malang. di lokasi itu, dulu dikenal banyak praktik judi, minuman keras, dan hal-hal yang tidak mendukung tumbuh kembang anak. Firman Talkah kemudian memutuskan pindah ke Mulyosari, juga di Surabaya, demi mencari lingkungan yang lebih baik.
Kini, ketiga putri Firman Talkah telah mencapai puncak akademik sebagai guru besar di bidangnya masing-masing. Setelah bapaknya meninggal, Anggraini baru mendaftar S3 di usia lebih dari 50 tahun. Karena itu, rasa yang muncul, kuliah di program doktoral itu seperti ingin memenuhi janji anak pada bapak.
Kisah keluarga ini menunjukkan bahwa peran seorang ayah bukan sekadar pemberi nafkah, melainkan penentu arah masa depan anak-anaknya. Seperti halnya R.A. Kartini yang tumbuh berkat kepercayaan dan dukungan ayahnya, demikian pula tiga profesor perempuan ini dibentuk oleh tangan kasih dan disiplin seorang ayah luar biasa.
Firman Talkah yang selalu hadir di momen wisuda anak-anaknya menjadi kenangan yang tidak ternilai bagi Prof Anggraini dan Prof Eva. Dan mereka percaya, perempuan, seperti juga laki-laki, punya kesempatan untuk berkembang dan mengisi berbagai bidang keilmuan, sesuai potensi dan ketekunannya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Potret Kartini dari tiga profesor bersaudara asal Surabaya
